PKM-W KIMIA UNDIP 2013

  1. A.      Judul Kegiatan Usaha

“Puding Busa” Aneka Rasa

 

  1. B.       Latar Belakang

Banyaknya makanan yang beranekaragaman seperti saat ini, tanpa kita sadari banyak yang mengandung bahan yang tidak sehat, seperti pengawet, pemanis, pewarna dan penyedap rasa. Hal ini didukung oleh kemajuan zaman yang membuat orang lebih memilih pola hidup instant dengan mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast food yang kurang memperhatikan nilai kesehatan. Efek dari makanan yang ditimbulkan mungkin tidak terlalu dirasakan dalam jangka pendek, tetapi dengan konsumsi yang berkelamjutan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit hingga berujung kematian.

Oleh karena itu, kami hadir untuk memeberikan solusi dengan memunculkan sebuah produk makanan sehat berupa puding / agar dengan kombinasi buah dan sayur yang memiliki kandungan serat dan gizinyang cukup sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Hadirnya produk ini diharapkan memberikan alternatif lain dari dunia makanan yang kurang sehat. Puding ini terbuat dari bahan makanan 100% alami, segar, tanpa pemanis buatan dan bahan pengawet. Pembuatan puding dengan kombinasi buah dan sayur yang berbahan alami mempunyai keunggulan dapat memperlancar pencernaan, dan menyehatkan tubuh, karena rendah kalori, kaya akan antioksidan serta vitamin A. Hal tersebut di dukung oleh kandungan dari agar-agar, wortel, sawi, dan buah-buahan seperti melon, nanas, dan semangka. Dalam 100 g wortel dan sawi terdapat 1-1,9 g protein; 3,9-9 g karbohidrat; 835 SI-4243,4 IU vitamin A; 1,9-74 vitamin C; 21-42 kal energi. Sedangkan komposisi kandungan gizi dari 100 g buah terdapat 130-2400 IU vitamin A; 6-30 mg vitamin C; 0,4-0,6 g protein; 6-13,7 mg karbohidrat. Selain itu juga terdapat vitamin B, K, dan juga mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Dari sekian banyak manfaat yang dimiliki sayur dan buah, hal inilah yang bisa menjadi nilai jual untuk konsumen agar membeli produk ini.

Produk puding ini terdiri dari berbagai varian rasa yang bisa di pilih sesuai selera. Selain itu, bisnis makanan yang tidak ada matinya menjadi peluang besar bagi kami untuk meluncurkan dan mengembangkan produk ini.

 

  1. C.    Diskripsi Produk

            Jenis usaha adalah pengolahan produk dari bahan baku puding atau agar-agar rumput laut dengan kombinasi aneka buah dan sayur. Produk puding yang masih jarang di pasaran menjadi peluang untuk usaha ini berkembang. Oleh karena itu, kami memunculkan sebuah produk makanan sehat bernama “Puding Busa” dengan varian rasa. Cita rasa dari sayur sawi dan wortel, serta beraneka macam buah seperti nanas, semangka, dan melon menambah keunggulan produk ini, karena kandungan gizi yang dimilikinya. Produk ini di jamin tidak kalah bersaing dengan produk lain yang sudah ada dipasaran karena memliki daya tarik tersendiri.

 

  1. D.       Analisis Kompetisi dan Peluang Pasar Produk

            Tembalang merupakan pusat komunitas mahasiswa terutama Undip. Hal tersebut tentu diiringi dengan banyaknya penjual jajanan. Akan tetapi, produk yang dijual kurang memperhatikan kandungan gizi dan manfaatnya bagi kesehatan. Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk mendirikan usaha olahan makanan dari puding atau agar yang dikombinasi dengan buah dan sayur yang memiliki kandungan serat dan gizi yang cukup. Wilayah Tembalang merupakan area peluang besar untuk memasarkan hasil olahan dari puding atau agar yang bervariasi dalam hal bentuk maupun rasa dan tentunya tidak kalah bersaing dengan produk yang sudah ada. Pada produksi kami memanfaatkan buah dan sayur sebagai sumber utama serat dan vitamin yang berguna untuk kesehatan.

 

  1. E.        Aspek Mekanisme Produksi Produk

Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan ‘Puding Busa’ sebagai berikut :

Bahan baku utama yang digunakan adalah :

ü  Puding / Agar

Sedangkan bahan baku tambahan meliputi :

 

ü  Wortel

ü  Sawi Ijo

ü  Nanas

ü  Semangka

ü  Melon

ü  Tepung maizena

ü  Susu kental manis

ü  Gula

ü  Biji selasih

 

Peralatan yang digunakan :

 

  • Kompor Gas
  • Tabung Gas
  • Lemari es
  • Blender
  • Panci sedang
  • Baskom
  • Saringan
  • Pisau
  • Ember
  • Pengaduk
  • Ember
  • Timbangan
  • Cup dan Sendok Plastik

 

  • Sendok
  • Sarung Tangan Plastik
  •  Serbet

 

 

Puding / Agar yang digunakan yaitu dibeli dari Pasar atau Toko di Tembalang dan sekitarnya. Puding / Agar yang digunakan sudah dalam bentuk kemasan.

            Proses pengolahan puding / agar yang dilakukan untuk mencapai program ini yaitu :

  1. Pemilihan puding / agar yang berkualitas baik;
  2. Pemasukan puding / agar pada panci kemudian tambahkan air secukupnya;
  3. Penambahan gula dan susu kental manis secukupnya;
  4. Pemasakan hingga mendidih sambil diaduk;
  5. Pengolahan bahan menjadi ‘Puding Busa’.

Proses Pengolahan ‘Puding Busa’:

  • Cairan puding / agar yang telah mendidih dan api telah dimatikan, diaduk perlahan hingga panasnya sedikit menurun;
  • Penambahan ekstrak sayuran ke dalamnya sambil terus diaduk agar tidak memadat;
  • Penambahkan biji selasih (yang telah diberi air hangat sebelumnya) sambil diaduk;
  • Pemotongan buah berbentuk dadu dan letakkan di dalam cup;
  • Pemasukan cairan puding ke dalam cup;  
  • Pendiaman hingga cukup dingin pada suhu ruang;
  • Pemasukan pada lemari es hingga memadat sempurna;
  • Pemasaran.

 

  1. F.       Aspek Rencana Pemasaran Produk

            Hasil sekali produksi (satu bulan) aneka rasa ‘Puding Busa’ akan dijual  di daerah Tembalang. Beberapa penjual puding di daerah Tembalang belum dapat memberikan produk olahan yang kreatif dan menarik serta kaya akan gizi, sehingga peluang mengembangkan produk agar / puding di daerah ini masih terbuka lebar untuk produsen-produsen makanan baru.

Pemasaran produk kami gunakan strategi, diantaranya:

  1. Mengidentifikasi segmen pasar berdasarkan demografi, tipe pelanggan atau lokasi, yaitu dengan mengetahui target pasar.
  2. Marketing campuran pemasaran dengan 4P untuk mengidentifikasikan produk yang kami tawarkan yaitu : product, place, price, promotion

ü   Product : produk yang ditawarkan adalah ‘Puding Busa’ yang beraneka rasa dan kaya akan gizi. Dengan keunggulan : produk lebih beraneka ragam dan rasa, unik, menarik, kreatif, dan kaya akan gizi (karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan serat)

ü   Place : Tempat penjualan yang kami fokuskan adalah kantin kampus Universitas Diponegoro dan tempat makan, terutama yang memiliki lemari es.

ü   Price : Harga yang kami tawarkan sangat terjangkau oleh konsumen, karena dengan harga tersebut konsumen dapat terbantu dalam pemenuhan gizinya dengan rasa yang unik.

ü   Promotion : Sosialisasi yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung (pamflet, brosur, dan internet).

            Pesaing utama adalah produsen makanan yang menghasilkan jajanan,  namun melihat data akan kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi makanan pelengkap kaya serat yang belum bisa dicukupi oleh produsen makanan. Maka kesempatan ini merupakan peluang emas bagi produsen makanan berbahan dasar agar.

 

  1. G.      Aspek Rencana Anggaran dan Keuangan

Tabel 1. Rencana anggaran dan keuangan selama satu kali produksi (satu bulan)

No

Keterangan

Jumlah

Harga satuan

Harga Total

I

Investasi

 

 

 

1.

Peralatan

 

 

 

 

– Kompor Gas

1

Rp 1.000.000

Rp 1.000.000

 

-Tabung Gas (14 kg)

2

Rp 150.000

Rp 300.000

 

-Lemari Es

1

Rp 1.500.000

Rp 1.500.000

 

– Blender

1

Rp 300.000

Rp 300.000

 

– Panci Sedang

4

Rp 60.000

Rp 240.000

 

– Baskom

3

Rp 20.000

Rp 60.000

 

Saringan

3

Rp 15.000

Rp 45.000

 

– Pisau

1 set

Rp 50.000

Rp 50.000

 

– Pengaduk

5

Rp 15.000

Rp 75.000

 

– Ember

2

Rp 12.000

Rp 24.000

 

-Timbangan

1

Rp 100.000

Rp 100.000

 

-Cup dan Sendok Plastik

150 set

Rp 10.000

Rp 1.500.000

 

-Sendok

1 set

Rp 35.000

Rp 35.000

 

-Sarung Tangan Plastik

1 set

Rp 10.000

Rp 10.000

 

– Serbet

5

Rp 5.000

Rp 25.000

 

Total

 

 

Rp 5.314.000

 

Penyusutan 30 %

 

 

Rp 1.594.200

 

Jumlah

 

 

Rp 6.908.200

2

Tempat Penjualan

 

 

 

 

-Sewa tempat

1 tahun

Rp 5.000.000

Rp 5.000.000

 

-Perizinan

 

Rp 750.000

Rp 750.000

 

Total

 

 

Rp 5.750.000

 

Total Investasi

 

 

Rp 12.658.200

II..

Biaya Operasional

 

 

 

 

Bahan

 

 

 

 

-Agar

80 bungkus

Rp 10.000

Rp 800.000

 

-Gula

15 Kg

Rp 15.000

Rp 225.000

 

– Susu Kental Manis

20 kaleng

Rp 10.000

Rp 200.000

 

-Tepung Maizena

3 Kg

Rp 20.000

Rp 60.000

 

-Sawi Ijo

7 Kg

Rp. 15.000

Rp 105.000

 

-Wortel

7 kg

Rp 15.000

Rp 105.000

 

-Melon

13 buah

Rp 15.000

Rp 195.000

 

-Semangka

10 buah

Rp 20.000

Rp. 200.000

 

-Nanas

15 buah

Rp 10.000

Rp 150.000

 

– Biji Selasih

15 bungkus

Rp 3.000

Rp 45.000

 

-Transportasi

 

Rp 705.000

Rp. 705.000

 

-Gaji pemilik

3

Rp. 600.000

Rp. 1.800.000

 

Total

 

 

Rp 4.590.000

III

Administrasi

 

 

 

 

-Print proposal

3 eksemplar

Rp.     20.000

Rp.     60.000

 

-Print laporan

5 eksemplar

Rp.     20.000

Rp.   100.000

 

-Dokumentasi & Publikasi

1 paket

Rp. 150.000

Rp.    150.000

 

-ATK

1 paket

Rp.   200.000

Rp.   200.000

 

-Lain – lain

secukupnya

Rp.   150.000

Rp.   150.000

 

Total

 

 

Rp. 660.000

 

 

 

 

 

 

Rekapitulasi Total

 

 

 

 

Total Investasi

 

 

Rp 12.658.200

 

Total Operasional

 

 

Rp.4.590.000

 

Total Administrasi

 

 

Rp. 660.000

 

GRAND TOTAL

 

 

Rp. 17.908.200

 

Uji Kelayakan Produksi

  1. Hasil Penjualan
  • Kapasitas produksi setiap periode (satu bulan) 3000 cup x 80% (kegagalan 20%) = 2400 cup
  • Harga penjualan :

–          Puding Busa (Sawi Ijo : Melon)   = 400 cup x Rp3.000 = Rp 1.200.000      

–          Puding Busa (Sawi Ijo : Semangka) = 400 cup x Rp 2.500 = Rp 1.000.000

–          Puding Busa  (Sawi Ijo : Nanas) = 400 cup x Rp 2.500 = Rp 1.000.000

–          Puding Busa (Wortel : Melon)   = 400 cup x Rp 3.000 = Rp 1.200.000       

–          Puding Busa (Wortel : Semangka) = 400 cup x Rp 2.500 = Rp 1.000.000

–          Puding Busa  (Wortel : Nanas) = 400 cup x Rp 2.500 = Rp 1.000.000        

maka pemasukan setiap periode produksi (1 bulan) adalah Rp 6.400.000

  1. Keuntungan / produksi

     Hasil penjualan – total biaya operasional

     Rp 6.400.000 – Rp 4.590.000 = Rp 1.810.000

  1. Proceed      =  Net profit + penyusutan

                        = Rp 1.810.000 + Rp 1.594.200

                        = Rp 3.404.200

  1. Pay back periode    = (Biaya produksi/proceed) x n bulan

                                    = (Rp 17.908.200/ Rp 3.404.200) x 1 bulan

                                    = 5,3 (5 bulan 3 minggu)

 

 

 

 

 

  1. H.      Jadwal Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 bulan 3 minggu, adapun  rinciannya :

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Program Usaha

No

Kegiatan

Bulan

I

II

III

IV

V

VI

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

1

Perencanaan Alat Produksi

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Persiapan Produksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Produksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Proses Pemasaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Laporan perkembangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Penyusunan Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Penyerahan akhir laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. I.         Lampiran
    1. a.         Biodata Ketua

Nama Lengkap                        : Puji Rahayu

Jurusan                                     : Kimia

Fakultas                                   : Sains dan Matematika

No. Induk Mahasiswa             : 24030110110027

Universitas                               : Diponegoro Semarang

Jenis Kelamin                          : Perempuan

Alamat rumah                         : Terboyo Wetan RT 03/RW 02

             Kec. Genuk-Semarang

No. Telp / HP                          : 085741183383

Alamat Email                           : iu_vmale@yahoo.co.id

           

 

  1. b.   Biodata Anggota Kelompok

Anggota 1

Nama anggota                         : Rizqi Nabilatul L.A.

Jurusan                                    : Kimia

Fakultas                                   : Sains dan Matematika

No. Induk Mahasiswa             : 24030110110036

Universitas                              : Diponegoro Semarang

Jenis Kelamin                          : Perempuan

Alamat rumah                         : Jl. Banjar Sari Gg. Iwenisari Barat No. 34B Tembalang

No. Telp / HP                          : 08985571942

Alamat Email                          : q2nabila@yahoo.co.id

 

 

 

 

 

Anggota 2

Nama anggota                         : Wihda Wihdatul Hidayah

Jurusan                                    : Kimia

Fakultas                                   : Sains dan Matematika

No. Induk Mahasiswa             : 240030110110033

Universitas                              : Diponegoro Semarang

Jenis Kelamin                          : Perempuan

Alamat rumah                         : Jl. Tunjungsari II No. 106A Tembalang

No. Telp / HP                          : 085718417757

Alamat Email                          : ndha_429@yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA

 

USAHA PEMBUATAN “PUDING BUSA” ANEKA RASA

Dengan ini kami yang bertanda tangan di bawah ini:

1. Puji Rahayu                24030110110027

2.Rizqi Nabilatul L. A.   24030110110036

3.Wihda Wihdatul H.             24030110110033

Yang disebut sebagai pihak PEMILIK USAHA

 

Melakukan  kesepakatan  bersama  untuk  menjalankan  kegiatan  bisnis  di  bidang barang dan menyatakan setuju untuk melakukan kerjasama dengan para pihak  PEMILIK USAHA I – III yang diikat sesuai dengan apa yang telah diatur di dalam anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) perusahaan.

 

Dan kami dengan ini menyatakan bahwa kami siap menjalankan bisnis ini bersama- sama untuk mencapai sukses bersama. Untuk masa berlaku surat perjanjian ini adalah sejak dari penandatanganan surat ini sampai dengan waktu Break Event Point (BEP).

 

Kami yang bertanda tangan di bawah ini telah menyetujui apa yang dirumuskan di dalam AD/ART  perusahaan.                                                           Mengenai pelanggaran yang terjadi di kemudian hari akan diselesaikan secara musyawarah mufakat.  Dan bila tidak terjadi mufakat, maka akan dipakai jalur hukum.

 

 

                                                                                    Semarang, 25 Maret 2013

 

                                            Pihak PEMILIK                  Pihak PEMILIK                        Pihak PEMILIK          

                                            USAHA I                            USAHA II                                USAHA III 

 

 

 

                                            Puji Rahayu                         Rizqi Nabilatul L.A.                  Wihda Wihdatul H.

                                            24030110110027                24030110110036                      24030110110033        

 

 

 

Catatan:

AD dan ART Perusahaan dibuat sendiri sesuai dengan kebutuhan.

 

 

 

 

 

 

 

PERNYATAAN KESANGGUPAN

 

 

Yang bertanda tangan di bawah ini kami :

 

No

Nama

Fakultas/Jurusan

NIM

Alamat

1.

Puji Rahayu

FSM/Kimia

24030110110027

 Terboyo Wetan RT 03/RW 02

 Kec. Genuk-Semarang

 

2.

Rizqi Nabilatul L. A.

FSM/Kimia

24030110110036

 Jl. Banjar Sari Gg. Iwenisari  Barat No. 34B Tembalang

 

3.

Wihda Wihdatul H.

FSM/Kimia

24030110110033

 Jl. Tunjungsari II No. 106A Tembalang

 

 

Dengan ini kami menyampaikan pernyataan sebagai berikut :

 

  1. Sanggup mengikuti kegiatan Program Mahasiswa Wirausaha mulai  dari Pelatihan/Workshop sampai dengan Pelaksanaan Kegiatan Bisnis secara keseluruhan, karena pengunduran diri di tengah kegiatan akan menutup kesempatan mahasiswa lain untuk mengikuti kegiatan ini.
  2. Bersedia mematuhi semua ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan Program Mahasiswa Wirausaha
  3. Pernyataan ini kami buat dengan penuh kesadaran.

 

Semarang, 25 Maret 2013

Yang Membuat Pernyataan

  1. Nama   : Puji Rahayu

            NIM    : 24030110110027

  1. Nama   : Rizqi Nabilatul Lailiya A.

NIM    : 24030110110036

  1. Nama   : Wihda Wihdatul Hidayah

NIM    : 24030110110033

 

 

 

 

 

 

 

PERNYATAAN KESANGGUPAN MENGEMBALIKAN DANA PMW 2013

 

Yang bertanda tangan di bawah ini kami :

No

Nama

Fakultas/Jurusan

NIM

Alamat

1.

Puji Rahayu

FSM/Kimia

24030110110027

Terboyo Wetan RT 03/RW 02

Kec. Genuk-Semarang

 

2.

Rizqi Nabilatul L. A.

FSM/Kimia

24030110110036

Jl. Banjar Sari Gg. Iwenisari Barat No. 34B Tembalang

 

3.

Wihda Wihdatul H.

FSM/Kimia

24030110110033

 Jl. Tunjungsari II No. 106A Tembalang

 

Dengan ini kami menyampaikan pernyataan sebagai berikut :

 

  1. 1.  Sanggup mengembalikan Modal yang telah diterima sebanyak 50 % dari total dana yang diterima, paling lambat bulan Juni 2013.
  2. 2.  Bersedia mematuhi semua ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan Pengembalian Dana Program Mahasiswa Wirausaha
  3. 3.  Pernyataan ini kami buat dengan penuh kesadaran.

 

 

Semarang, 25 Maret 2013

Yang Membuat Pernyataan

 

  1. Nama   : Puji Rahayu

            NIM    : 24030110110027

  1. Nama   : Rizqi Nabilatul Lailiya A.

NIM    : 24030110110036

  1. Nama   : Wihda Wihdatul Hidayah

NIM    : 24030110110033

 

 

 

 

 

 

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

1. Judul Kegiatan        : “Puding Busa” Aneka Rasa

2. Bidang Kegiatan     : ( ) PKM-P (X) PKM-K

  ( ) PKM-T ( ) PKM-M

3. Bidang Ilmu            : ( ) Kesehatan ( ) Pertanian

  (X ) MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa

  ( ) Sosial Ekonomi ( ) Humaniora

  ( ) Pendidikan

4. Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap        : Puji Rahayu

b. NIM                        : 24030110110027

c. Jurusan                    : Kimia

d. Universitas             : Diponegoro

e. Alamat                     : Terboyo Wetan RT 03/RW 02

Kec. Genuk-Semarang

f. Alamat E-Mail         :  iu_vmale@yahoo.co.id

5. Anggota Pelaksana Kegiatan / Penulis       : 2 orang

6. Dosen Pendamping

a. Nama Lengkap        : Purbowatiningrum Ria S, M.Si

b. NIP                                     : 1973 03 14 1999 03 2 002

c. Alamat Rumah        : Aspol Colombo blok D no. 6 Surabaya

7. Biaya Kegiatan Total

a. Dikti                        : Rp 17.908.200

b. Sumber Lain            : –

8. Jangka Waktu Pelaksanaan : 5 bulan 3 minggu

 

                                                            Semarang, 25 Maret 2013

     Menyetujui

     PembantuDekan III                                      Ketua Pelaksana Kegiatan

 

 

 

 

(Ngadiwiyana, S.Si, M.Si)                          (Puji Rahayu)

     NIP.196906201999031002                         NIM. 24030110110027

 

Pembantu Rektor III                                   DosenPendamping

     BidangKemahasiswaan

 

 

 

 

(Drs. Warsito, SU)                                       (Purbowatiningrum Ria S, M.Si)

     NIP. 195402021981031014                        NIP. 1973 03 14 1999 03 2 002

 

USULAN

PROGRAM MAHASISWA WIRAUSAHA

                                                

 

 “PUDING BUSA” ANEKA RASA

 

Disusun oleh:

PUJI RAHAYU                                     (NIM 24030110110027/Angkatan 2010)

RIZQI NABILATUL LAILIYA A.     (NIM. 24030110110036/Angkatan 2010)

WIHDA WIHDATUL HIDAYAH      (NIM. 24030110110033/Angkatan 2010)

                                                               

 

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2013

“Chemoducation” Brand Image Kaos Aplikasi Eksotik Struktur Kimia Goyang Wajah Berbasis Edukasi

A.    JUDUL
“Chemoducation” Brand Image Kaos Aplikasi Eksotik Struktur Kimia Goyang Wajah Berbasis Edukasi.
 
B.     LATAR  BELAKANG MASALAH
Pembelajaran sebagai perwujudan nyata dari proses pendidikan menempati posisi strategis dalam mengupayakan perubahan ke arah  yang lebih baik dari kehidupan manusia. Manusia akan belajar dari pengalaman-pengalamannya maupun pengalaman-pengalaman orang lain untuk mencari solusi dari suatu masalah. Generasi baru yang lahir akan terus terlibat dalam proses transformasi dengan belajar pada generasi sebelumnya serta mengupayakan kondisi yang lebih baik dibanding masa sebelumnya. Oleh karena itulah pendidikan menjadi komponen kehidupan yang mutlak adanya.
Salah satu hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikan adalah metode yang digunakan saat proses pembelajaran. Saat ini sudah banyak dikembangkan metode pembelajaran visual. Sesuai namanya, metode pembelajaran visual menggunakan media ajar yang dapat menstimulus memori para pembelajar melalui visualisasi, seperti gambar, video, dan miniatur.
Visual adalah apa yang dapat dilihat, sehingga semua hal yang dapat dilihat masuk kategori visual. Tentu saja ini berlaku untuk orang yang secara normal dapat melihat. Pada taraf melihat, pemahaman terkait hal yang dilihat tidak serta merta akan mengikuti. Untuk mencapai pemahaman maka orang harus meresapkan apa yang dilihatnya ke otak sekaligus mengkaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Murti Kusuma dalam kajiannya yang berjudul Komunikasi Visual menyatakan komunikasi visual sangat efektif. Efektivitas sejumlah indera untuk menerima rangsangan yakni sebagai berikut: indera penglihatan sebesar 83%, indera pendengaran 11%, indera penciuman sebesar 3,5%, indera peraba sebesar 1,5%, indera perasa sebesar 1%.
Efektivitas indera penglihatan dalam menerima rangsangan sesuai penjelasan di atas yang mendorong kelompok kami untuk menciptakan sebuah media pembelajaran visual yang berbasis komersil guna mengenalkan senyawa-senyawa kimia secara kreatif dan inovatif. Media visual sebagai pengenalan senyawa-senyawa kimia yang akan kami komersilkan berupa kaos aplikasi struktur kimia dari senyawa tersebut yang disertai penjelasan singkatnya.
Senyawa kimia adalah zat kimia murni yang terdiri dari dua atau beberapa unsur. Senyawa dapat wujud dalam beberapa fase. Kebanyakan senyawa berupa zat padat. Semua senyawa akan terurai menjadi senyawa yang lebih kecil atau atom individual bila dipanaskan sampai suhu tertentu (yang disebut suhu penguraian). Setiap senyawa kimia memiliki struktur kimia yang dapat menggambarkan hubungan antarunsur penyusun senyawa tersebut.
Ada stereotype di masyarakat yang mengaitkan tentang kedekatan senyawa kimia dengan pembuatan bom yang sampai sekarang masih menjadi isu menahun. Padahal jika ditinjau dari segi keilmuan, senyawa-senyawa kimia itu bukan hanya terkait dengan pembuatan bom saja. Senyawa-senyawa kimia justru banyak ditemukan di lingkungan sekitar, mulai dari senyawa bermanfaat sampai senyawa berbahaya. Contoh senyawa kimia yang bermanfaat adalah air (H2O), garam dapur (NaCl), alkil benzena sulfonat yang terkandung di detergen, dan masih banyak lainnya. Sedangkan contoh senyawa kimia yang bahaya bagi manusia namun banyak dijumpai adalah siklamat. Siklamat adalah bubuk kristal putih, tidak berbau dan kira-kira 30 kali lebih manis dari pada gula tebu (dengan kadar siklamat kira-kira 0,17%). Bilamana kadar larutan dinaikkan sampai dengan 0,5%, maka akan terasa getir dan pahit. Siklamat dengan kadar 200 mg per ml dalam medium biakan sel leukosit dan monolayer manusia (in vitro) dapat mengakibatkan kromosom sel-sel tersebut pecah. 
Kami berharap ide ini dapat menjadi gebrakan baru di dunia pendidikan Indonesia dan masyarakat tahu senyawa-senyawa kimia mana saja yang baik bagi tubuh maupun lingkungan. Jika masyarakat dapat membedakan antara senyawa-senyawa kimia yang baik maupun yang berbahaya, kami berharap mereka dapat selektif dalam memilih barang-barang yang mengandung bahan-bahan kimia.
 
C.    PERUMUSAN MASALAH
Saat ini berbagai macam pakaian sudah banyak di masyarakat, mulai dari kreatifitas bahan maupun bentuk. Tapi sejauh ini belum ada yang menampilkandesain struktur senyawa kimia yang unik dengan kesan eksotik dan lucu sebagai aplikasi tempelan penghias kaos. Senyawa kimia yang dimata masyarakat memiliki struktur sangat rumit dan menjenuhkanternyata bisa bernilai menjadi brand image yang unik dan kreatif sehingga memberikan nilai tambah produk sandang di masyarakat.
 
D.    TUJUAN
Tujuan umum kegiatan PKM Kewirausahaan ini adalah menghasilkan usaha pembuatan kaos aplikasi dengan menggunakan desain struktur kimia goyang wajah. Tujuan ini dapat dijabarkan secara khusus sebagai berikut:
1.      Mengembangkan jiwa wirausaha sekreatif mungkin pada pembuatan kaos dengan hiasanaplikasi tempelan berdesain struktur kimia goyang wajah.
2.      Mengenalkan struktur kimia dengan gambar goyang wajah yang unik dan lucu sebagai brand image kepada masyarakat sebagai media edukasi sehingga nantinya masyarakat lebih selektif dalam memilih barang yang mengandung bahan-bahan kimia.
 
E.     LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1.      Usaha kaos dengan hiasan aplikasi tempelan berdesain struktur kimia goyang wajah ini dapat berkembang di tingkat regional, nasional, bahkan sampai tingkat internasional.
2.      Produk kaos dengan hiasan aplikasi tempelan berdesain struktur kimia goyang wajah diminati semua kalangan.
3.      Menghasilkan kemasan produk yang kreatif, inovatif, berkualitas tinggi, dan berseni dengan harga terjangkau.
 
F.     KEGUNAAN
1.      Mengenalkan struktur kimia dengan gambar goyang wajah yang unik dan lucu sebagai brand image kepada masyarakat.
2.      Mendukung upaya pemerintah untuk memberikan edukasi dengan sarana unik.
3.      Memberikan semangat untuk mengembangkan jiwa entrepreneurmahasiswa.
 
G.    GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
G. 1. Deskripsi Produk
G. 1.1 Keunggulan dan Keunikan Produk
Program kegiatan PKM-K kaos aplikasi eksotik struktur kimia goyang wajah berbasis edukasi ini pada tahap realisasinya akan kami beri nama“Chemoducation. Goyang wajah  adalah sebutan untuk desain ekspresi wajah pada aplikasi tempelan kaos “Chemoducation”
 

  

Gambar 1. Contoh Desain Aplikasi Tempelan Kaosdengan
                        Brand ImageStrukturKimia Goyang Wajah “Chemoducation
 
          Produksi kaos dengan aplikasi tempelan berdesain senyawa yang kami tawarkan memiliki keungulan dibanding kaos yang lain, antara lain:
1.      Diferensiasi produk dan belum ada usaha yang sejenis.
2.      Produk yang unik, yaitu adanya hiasan kaos berupa aplikasi tempelan berbahan katun yang diisi dakron sehingga memiliki kesan 3 dimensi.
3.      Produk yang dihasilkan memiliki inovasi berupa penambahan desain ekspresi lucu.
4.      Produk yang dihasilkan tidak monoton, artinya pembeli bisamemilih struktur kimia, warnaaplikasi tempelan dan desain goyang wajah yang diinginkan.

 

 

  

Gambar 2. Macam-Macam Bentuk Mata
pada Ekspresi Goyang Wajah

 

 

  

Gambar 3. Macam-Macam Bentuk Mulut
pada Ekspresi Goyang Wajah
1.      Pada bagian belakang kaos ada penjelasan singkat mengenai struktur kimia yang dijadikan desain aplikasi tempelan kaos sehingga dapat dijadikan media edukasi dan dapat dibaca oleh siapa saja.
2.      Kami menggunakan tas kain daur ulang enceng gondok untuk packaging sehingga ramah lingkungan.
3.      Harga produk yang relatif murah, yaitu Rp 100.000,00 per kaos segala ukuran.

 

 

  

Gambar 4. Contoh Kaos Tampak Muka

 

 

  

Gambar 5. Contoh Kaos Tampak Belakang
 
G.1.2 Visi dan Misi Usaha
Visi : Menyumbangkan metode pembelajaran baru di dunia
pendidikan Indonesia
Misi : 1. Pembentukan industri home kreatif.
2. Penggunaan aplikasi tempelan eksotik struktur kimia
goyang wajah pada kaos sekaligus penjelasan singkatnya.
3. Harga yang kompetitif.
 
G.1.3 Tagline (Motto Produk)
Let’s Learn It
 
G.1.4 Logo Usaha

 

 
        
Gambar 6. Logo Produk “Chemoducation”
 
 
G.1.5 Struktur Organisasi Usaha
 
 
G.2. ANALISIS KOMPETENSI DAN PELUANG PASAR PRODUK
G.2.1 Pasar yang Dituju
 Pasar yang dituju penjualan kaos aplikasi eksotik struktur kimia goyang wajah berbasis edukasi adalah:
1.      Mahasiswa/i yang ada di wilayah Semarang.
2.      Siswa-siswa SMA dan SMP di wilayah Semarang.
3.      Masyarakat Semarang pada umumnya.
 
G.2.2 Risiko Kompetisi
            Risiko yang dihadapi adalah kaos aplikasi eksotik struktur kimia goyang wajah berbasis edukasi merupakan produk baru yang membutuhkan banyak marketing brand. Strategi untuk mensiasati resiko tersebut  adalah kami akan berlaku sebagaitrendsetter pengguna kaos aplikasi eksotik struktur kimia goyang wajah berbasis edukasi yang kami produksi.
 
G.2.3 Perspektif Masa Depan Usaha
            Mempunyai beberapa cabang pemasaran di berbagai daerah di Jawa Tengah dan menguasai 5 persen pasar sandang di wilayah Semarang pada termin lima bulan pertama pengembangan usaha. Mempunyai omset yang terus meningkat dengan peningkatan 10 persen tiap tahunnya.
 
G.2.4 Analisis Keuangan
            Analisis keuangan untuk usaha kaos aplikasi eksotik struktur kimia goyang wajah berbasis edukasi ditampilkan dalam cash flow di bawah ini :
Tabel 1. Cash Flow Usaha Selama 5 Bulan Pertama
No.
Uraian
Bulan Ke-
Jumlah (Rp)
1
2
3
4
5
1.
Modal
8.300.000
 
 
 
 
8.300.000
2.
Pembelian Alat
5.525.000
 
 
 
 
5.525.000
3.
Biaya Produksi
 
 
 
 
 
 
 
*Pembelian  Bahan
2.325.000
 
 
 
 
2.325.000
 
*Listrik
100.000
 
 
 
 
100.000
 
*Pengemasan
200.000
 
 
 
 
200.000
 
* Transportasi
50.000
 
 
 
 
50.000
4.
Promosi
100.000
 
 
 
 
100.000
5.
Penjualan Produk
 
 
 
 
10.000.000
10.000.000
6.
Biaya Balik Modal
 
 
 
 
8.300.000
8.300.000
7.
Biaya Bersih
 
 
 
 
 
1.700.000
 
            Dalam perhitungan cash flow ini biaya yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.      Harga bahan baku habis pakai selama 5 bulan = Rp 2.325.000,00.
2.      Harga peralatan tidak habis pakai selama 5 bulan = Rp 5.525.000,00.
            Kapasitas produksi untuk jangka waktu 5 bulan adalah kurang lebih 100 buah kaos. Dengan pengembangan omset, pada bulan-bulan berikutnya (tergantung pesanan konsumen).
 
A.    METODE PELAKSANAAN
Usaha “Chemoducation untuk tahap perealisasian ide menjadi sebuah bisnis membutuhkan waktu kurang lebih selama 5 bulan. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan kami melakukan:
Ø  Pembuatan flowchart pengolahan bahan baku menjadi produk yang unik dan menarik.
Ø  Membuat daftar semua alat dan bahan yang akan diperlukan dalam usaha  “Chemoducation.
Ø  Pembelian alat dan bahan yang telah direncanakan.
Ø  Pembuatan modul dan SOP (Standar Operasi Produk) “Chemoducation.
2.      Tahap Pelaksanaan
 
 
 

Gambar 7Flowchart Pembuatan Kaos

3.      Tahap Pemasaran
          Sebelum kami menawarkan produk “Chemoducation kepada masyarakat, kami telah merumuskan beberapa hal yang dapat menunjang perkembangan usaha ini dimasa depan.
Ø  Pola distribusi
“Chemoducation berpusat di galeri yang akan kami dirikan di pusat kota. Sebelumnya kami akan memproduksi skala kecil sebagai awalan. Untuk tempat produksi sementara kami gunakan kos-kosan kami.
Ø  Promosi
Dalam pemasaran produk “Chemoducation, kami menggunakan dua metode yaitu online dan offline. Untuk online, kami akan menjual produk melalui komunitas bisnis onlinemisalnya www.alibaba.com dan www.tokobagus.com sehingga pada saatnya nanti kami akan membuat web pribadi untuk perusahaan kami.
 
B.     JADWAL KEGIATAN
Tabel 2. Jadwal Kegiatan PKM-K
No
Kegiatan
Bulan
1
2
3
4
5
1
Pembelian peralatan, perlengkapan dan bahan
 
 
 
 
 
2
Produksi skala terbatas
 
 
 
 
 
3
Membangun jaringan
 
 
 
 
 
4
Pemasaran offline (konsinyasi)
 
 
 
 
 
5
Produksi skala besar
 
 
 
 
 
6
Pemasaran online
 
 
 
 
 
7
Penyusunan laporan
 
 
 
 
 


C.    RANCANGAN BIAYA
No.
Uraian
Biaya (Rp)
1.
Bahan Habis Pakai
Tinta
Benang hitam ukuran kecil            10 x   1500
Dakron 30×30 cm                          20 x   2500
Kain 1×1 m                                      4 x 15000
Kaos putih polos                         100 x  20000
 
  200000
    15000
    50000
    60000
2000000
 
JUMLAH
2325000
2.
Peralatan Penunjang
Mesin jahit
Mesin sablon digital
Gunting                                          2 x   4000
Penggaris                                        2 x   3500
Pensil kain                                      2 x   5000
 
1500000
4000000
      8000
      7000
    10000
 
JUMLAH
5525000
3.
Biaya Perjalanan
Transportasi distribusi di kawasan Semarang
 
    50000
 
JUMLAH
    50000
4.
Biaya Promosi
Pamflet                                         100 x   1000
 
  100000
 
JUMLAH
  100000
5.
Baiaya Utilitas
Listrik
 
  100000
 
JUMLAH
  100000
6.
Pengemasan
Tas enceng gondok A4                100 x   2000
 
200000
 
JUMLAH
  200000
 
TOTAL (1+2+3+4+5+6)
8300000
 
 
Nama   : Sugiarti Norvia
TTL     : Semarang, 28 November 1992
Alamat :Jalan Mintojiwo Dalam 1 nomor 26 Semarang
No.HP : 085740554054
 e-mail : norvia.sn@gmail.com
Mengetahui,
 
Sugiarti Norvia
NIM. 24030110130052
Biodata Dosen Pendamping 
Nama Lengkap            : Nor Basid A. Prasetya, S.Si., M.Sc
Jabatan / Gol./ NIP      :198112022005011002
Jenis Kelamin              : Laki-laki
Alamat                         : Jalan Dinar Mas XII/01 rt 03 rw 16 Perumahan Dinar
Mas, Meteseh, Tembalang
Telepon                        : 08156645157
Mengetahui,
 
Nor Basid A. Prasetya, S.Si., M.Sc
NIP.198112022005011002

CERITA SEBUAH KATA

SEBUAH KISAH NYATA YANG MENGHARUKAN
***
Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H

 

Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM

 

Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

 

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.
Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

 

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.
 
Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.
 
“Ayah ingin sekali pergi haji.”
Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.
Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

 

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.
Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

 

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.
 
“Ayo kita pulang, Yar.”

 

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.

 

Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata. Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.
“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”

 

Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.
Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?
Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

 

“Hati-hati, Yar.”
 
Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.
Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.
Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

 

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,
 
“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”
 
Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam 
 
Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

 

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
 
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.
 
Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.
Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

 

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

 

Terisak ia.
Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.
Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

 

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan 

 

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain. 
 
 
Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

 

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.
 
“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.
Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.
 
Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.
Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.
 
 
Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.
Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.
Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?
Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.
‘Ayah.’
 
Nb: Cerita diangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan tahun 1433-1434 H.

USULAN PKMP ANALISA KELAYAKAN SINGKONG DARI DAERAH PEGUNUNGAN KAPUR UTARA JAWA TENGAH SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU YANG MURAH DAN BERGIZI

A.  ANALISA KELAYAKAN SINGKONG DARI DAERAH PEGUNUNGAN

KAPUR UTARA JAWA TENGAH SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGUYANG MURAH DAN BERGIZI

 

B.  LATAR BELAKANG

Salah satu komoditas pangan yang patut dipertimbangkan untuk dikembangkan
di Indonesia khusunya di pulau Jawa adalah umbi-umbian seperti singkong atau ubi
kayu.   Kondisi   tanah   dan   iklim   Indonesia   sangat   cocok   untuk   ditanami
singkongSingkong adalah salah satu jenis sayuran yang sudah sangat dikenal luas
pemanfaatannya. Di Indonesia, selain dikenal sebagai bahan baku keripik, singkong
biasa diolah menjadi makanan gatot, tiwul, atau gaplek. Kalaupun singkong dipakai
untuk  tapioka,  aplikasinya  terbatas  karena  karakter  singkong  tidak  bisa  hilang.
Singkong atau ubi kayu yang selama ini identik dengan komoditi rendahan, sudah
waktunya naik kelas menjadi komoditi yang membanggakan dan mempunyai daya
jual yang tinggi. Kegiatan ini salah satunya bertujuan agar petani singkong bisa ikut
tersenyum dengan naiknya harga jual singkong karena permintaan bahan baku untuk
pembuatan  tepung  mocaf  akan  tinggi.  Hukum  ekonomi  sederhana  bahwa  kalau
permintaan singkong naik, otomatis harga singkong akan ikut naik. Bagi masyarakat
luas  (pemilik modal kecil) bisa ikut menciptakan lapangan kerja baru untuk para
pencari kerja ditingkat pedesaan karena adanya pabrik tepung mocaf yang dibangun
dimana-mana.    Sedangkan  bagi  pemerintah,  mocaf  ini  diharapkan  bisa  ikut
membantu mengurangi import tepung terigu yang terus meningkat setiap tahunnya
agar devisa negara bisa dihemat.

Penduduk Indonesia semakin tahun terus semakin bertambah dan     pasti butuh pemenuhan bahan pangan. Dan lagi tepung mocaf ini bukan barang yang mudah basi. Bisa digudangkan atau ditimbun selama 6 bulan bila dikemas dengan baik. Bahkan layak  untuk  diexport  yang  bisa  mendatangkan  devisa.  Kemungkinan  ini  sangat mungkin  terjadi  kalau  singkong  yang dihasilkan  di  Indonesia  ini  90%  dijadikan tepung mocaf yang nilai tambahnya berlipat-lipat.

Jadi, kedepannya diharapkan tidak hanya diexport berupa gaplek yang hanya untuk pakan ternak atau menjadi produk lain yang nilai tambahnya justru dinikmati oleh orang asing.

Image

Gambar 1. Skema pembuatan mocaf

Masih banyak lahan tidur atau tanah kosong yang dibiarkan terbengkalai
diseluruh  wilayah  Indonesia  yang  tidak  dimanfaatkan  dengan  baik.Padahal
semua jenis tanah yang ada di Indonesia ini, bisa ditanami singkong dengan
ba

 Image

Gambar 3. Perbedaan limbah padat dan kering

Seperti  yang  telah  kita  ketahui  bersama,  bahwa  penemu  fermentasi tepung  mocaf  yang  pertama  adalah  Dr.  Achmad  Subagio  staf  pengajar  dari Universitas  Negeri  Jember,  Jawa  Timur.   Tepung  mocaf  memiliki  prospek pengembangan yang bagus, pertama dilihat dari ketersediaan singkong sebagai bahan baku yang berlimpah sehingga kemungkinan kelangkaan produk dapat dihindari karena tidak tergantung dari impor seperti gandum; kedua yaitu   harga tepung mocaf relatif lebih murah dibanding dengan harga tepung terigu maupun tepung beras, sehingga biaya pembuatan produk dapat lebih rendahdan yang ketiga adalah pasar lokalnya sangat prospektif karena begitu banyak industri makanan yang menggunakan bahan baku tepung.

Dari beberapa alasan diatas dapat disimpulkan bahwa lahirnya teknologi
produksi tepung singkong modifikasi (MOCAF) membuka peluang bisnis besar.
Dengan  potensi  tersebut  kami  tergerak  untuk  melakukan  analisa  dan  uji
kelayakan terhadap singkong hasil produksi pegunungan kapu dalam hal ini
meliputi wilayah Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, dan Kabupaten Kudus.
Dengan   analisa   kelayakan   ini   harapan   kedapannya   masyarakat   sekitar
pegunungan kapur utara dapat melakukan pengolahan singkong dengan lebih
optimal menjadi tepung tidak sekedar gaplek atau makanan olahan saja.

 

C.  PERUMUSAN MASALAH

Terigu adalah salah satu bahan pangan yang cukup vital bagi masyarakat
Indonesia. Industri pengolahan makanan berbahan baku terigu di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun, sehingga mendorong meningkatnya permintaan

bahan  baku  terigu  nasional.  Sebagaimana  kita  ketahui  bahwa  negara  kita bukanlah penghasil gandum-bahan baku terigu, karena Indonesia bukan negara beriklim sub-tropis.

Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan tepung terigu negara kita masih  impor  dari  negara  lain.  Upaya  untuk  mewujudkan  ketahanan  pangan nasional dan mengurangi ketergantungan impor pangan terutama terigu yang cenderung  mengancam  kedaulatan  pangan  nasional,  oleh  karenanya  perlu dikembangkan  diversifikasi  pangan  dengan  mengutamakan  lokalitas  daerah seperti  ubikayu  dan  aneka  ubi  lainnya.  Salah  satu  produk  yang  telah dikembangkan untuk menggantikan tepung terigu adalah tepung mocaf yaitu tepung  berbahan  dasar  singkong  atau  ubi  kayu.  Daerah  pegunungan  kapur memiliki porduksi ubi kayu yang cukup besar dengan pemanfaatan yang belm optimal. Penelitian ini ingin menguji kelayakan ubi produksi daerah pegunungan kapur utara untuk diolah menjadi tepung mocaf.

 

D.  TUJUAN

1.  Berpartisipasi membangun ketahanan pangan nasional

2.  Mengenalkan  singkong  sebagai  bahan  baku  alternatif  pembuatan  tepung
      untuk industri tepung nasional.

3.  Mengetahui  potensi  singkong  gunung  kapur  utara  untuk  dioptimalkan
      sebagai tepung mocaf

4.  Mengenalkan MOCAF sebagai alternatif tepung nasionalyang mempunyai
      beberapa aspek kesehatan yang cukup menonjol, yaitu kaya serat dan bebas
      gluten.

 

E.  LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran  yang diharapkan  dari  kegiatan  ini  adalah  diperoleh  karakteristik singkong  di  daerah  pegunungan  kapur  utara,  kandungan  gizi,  tekstur  dan kemampuannya  untuk  diolah  menjadi  tepung.  Juga  tepung  hasil  olahan  dari singkong atau MOCAF   dan produk turunannya ini dikenal luas oleh masyarakat khususnya di jawa tengah dan secara nasional pada umumnya.

F.  KEGUNAAN

Kegunaan dari program penelitian ini adalah:

1.  Mengetahui karakteristik dan kelayakan ubi kayu (singkong) di wilayah
      Pegunungan Kapur Utara untuk dijadikan tepung MOCAF

2.  Menciptakan peluang usaha baru khususnya bagi masyarakat petani dan
      masyarakat yang belum memiliki pekerjaan pada umumnya.

3.  Mengenalkan   teknik   pengolahan   pasca   panen   singkong   untuk
      menghasilkan  produk  yang  bernilai  jual  tinggi  dan  memiliki  pangsa
      pasar yang luas.

4.  Meningkatkan produksi singkong dari petani, sehingga berdampak pada
      berkurangnya lahan kosong dan terbengkalai.

5.  Menjadi   alternatif   pendapatan   bagi   petani   untuk   meningkatkan
      kesejahteraan hidup mereka.

 

G. TINJAUAN   PUSTAKA

MOCAF adalah singkatan dari Modified Cassava Flour atau dalam bahasa
Indonesia berarti Modifikasi Tepung Ketela Pohon. Tepung MOCAF ini merupakan
hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh Dr. Achmad Subagio, staf
pengajar  di  Universitas  Negeri  Jember  Jawa  Timur.  Secara  definitif,  MOCAF
adalah  produk  tepung  dari   singkong   yang  diproses  menggunakan  prinsip
memodifikasi sel singkong secara fermentasi, dimana mikroba BAL (Bakteri Asam
Laktat) mendominasi selama fermentasi tepung singkong ini. Mikroba yang tumbuh
menghasilkan enzim pektinolitik dan selulolitik yang dapat menghancurkan dinding
sel  singkong,  sedemikian  rupa  sehingga  terjadi  liberasi  granula  pati.  Mikroba
tersebut juga menghasilkan enzim-enzim yang menghidrolisis pati menjadi gula dan
selanjutnya mengubahnya menjadi asam-asam organik, terutama asam laktat. Hal
ini akan menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa
naiknya  viskositas,  kemampuan  gelasi,  daya  rehidrasi,  dan  kemudahan  melarut.
Demikian  pula,  cita  rasa  MOCAF  menjadi  netral  dengan  menutupi  cita  rasa
singkong sampai 70%.

 

 

 

 

 

 

Kondisi  saat  ini  menunjukkan  bahwa  produk  MOCAF  secara  ekonomis ternyata  jauh  lebih  murah  daripada  produk  terigu  yang  selama  ini  beredar  di pasaran.  Bahan  baku  yang  mudah  dibudidayakan,  murahnya  harga  ubi  kayu  di pasaran saat ini, serta proses pengolahan tepung yang tidak memerlukan teknologi tinggi, membuat harga  MOCAF saat ini lebih murah dari harga terigu. Hal ini membuat produk makanan apapun yang dibuat dari tepung MOCAF akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan tepung terigu.

Selama  ini  penggunaan  tepung  ubi  kayu  masih  sangat  terbatas,  hal  itu disebabkan  kualitasnya  yang  rendah.  Untuk  food  ingredient  misalnya,  seperti substitusi terigu sebesar  5% pada mie instant yang menghasilkan produk dengan mutu  rendah,  atau  pada  kue  kering.Namun  aplikasi  tepung  MOCAF  dengan karakteristik yang dijelaskan di atas, ternyata mampu menghasilkan produk makanan yang sangat menggembirakan.

Perbedaan tepung mocaf dengan tepung singkong biasa dan tepung gaplek adalah pada proses pengolahaannya.Tepung singkong atau tepung cassava dibuat dari singkong  yang  dikupas  dipotong-potong  menjadi  chips  langsung  dikeringkan, kemudian digiling dengan mesin penepung. Sedangkan pada tepung gaplek dibuat dari singkong yang dibuat gaplek terlebih dahulu, kemudian ditepungkan. Sedangkan tepung  mocaf  setelah  singkong  dipotong-potong  menjadi  chips  kemudian  di fermentasi dahulu, dikeringkan kemudian digiling.

Tepung mocaf memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, namun rendah
protein hal ini menyebabkan tepung mocaf memiliki kemampuan gelasi, rehidrasi
dan viskositas yang lebih rendah dibandingkan tepung terigu, namun masih lebih
baik dibandingkan dengan tepung sinkong biasa atau tepung gaplek. Tepung terigu
juga mengandung banyak zat pati, yaitu karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam
air. Jenis tepung terigu dibedakan atas kandungan protein yang dimiliki oleh tepung
terigu,  kandungan  protein  pada  terigu  menentukan  kandungan  gluten.  Kualitas
protein serta gluten ditentukan oleh kualitas jenis gandum. Protein sangat terkait
dengan gluten, dimana gluten sendiri adalah suatu zat yang ada pada tepung terigu,
sifatnya zat ini adalah elastis dan kenyal. Semakin tinggi kadar proteinnya maka
semakin banyak gluten yang ada pada tepung tersebut, begitu pula sebaliknya.

 

 

 

 

 

 

Kualitas terigu juga dipengaruhi oleh jumlah kadar air (moisture) pada tepung
terigu. Kadar air berpengaruh besar sekali terhadap kualitas tepung. Bila kadar air
pada  tepung  terigu  tinggi  maka  tepung  akan  mudah  rusak  disebabkan  oleh
pertumbuhan jamur, dan bau apek. Bila kadar air tinggi maka kualitas rendah dan
harga jual juga rendah. Kualitas terigu juga dipengaruh oleh kadar abu yang ada pada
tepung  terigu,  dimana  kadar  abu  ini  sangat  mempengaruhi  warna  produk  akhir.
Kadar  abu  (ashcontent)  yang tinggi menunjukan tepung terigu memiliki kualitas
yang rendah. Beberapa jenis produk sangat memperhatikan jumlah kandungan abu.
Pada tepung mocaf dengan pengeringan yang optimal kadar air bisa mencapai 6.9%
sedangkan pada tepung terigu kandungan air mencapai rata-rata  12.0%. Kadar air
pada  tepung  mocaf  yang  lebih  rendah  menyebabkan  lebih  tahan  terhadap
pertumbuhan  mikroba  yang  dapat  menyebabkan  kerusakan  produk.  Kadar  air
mempengaruhi daya simpan produk. Ini adalah salah satu kelebihan tepung mocaf
dibandingkan  dengan  tepung  terigu.  Selain  itu,  tepung  mocaf  juga  memiliki
keunggulan yaitu kadar abu  (ash content) yang lebih rendah yaitu berkisar  0.4%
sedangkan  terigu  bekisar  1.3%.  Tepung  mocaf  memiliki  kandungan  pati  (starch
content  yang  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  terigu 60-68%.  Sedangkan

kandungan  serat  pada  mocaf  lebih  tinggi  dibandingkan  tepung  terigu,  sehingga tepung terigu lebih lembut dibandingkan dengan tepung mocaf.

MOCAF juga telah diujicoba untuk digunakan beragam kue kering, seperti
cookies,  nastar,  kastengel,  dll  dimana 100%  tepungnya  menggunakan  MOCAF.

Hasilnya menunjukkan bahwa kue kering yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan produk yang dibuat menggunakan tepung terigu tipe berprotein rendah (soft wheat). Hanya saja, tepung MOCAF memerlukan mentega atau margarin sedikit lebih banyak dibandingkan tepung terigu untuk mendapatkan tekstur yang baik. Untuk cita rasanya, hasil uji organoleptik dengan resep standar menunjukkan bahwa panelis tidak mengetahui bahwa kue-kue tersebut dibuat dari MOCAF yang berasal dari ubi kayu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

G.1 Keunggulan MOCAF

Keunggulan tepung mocaf antara lain adalah :

1. Mempunyai aroma dan citarasa yang lebih baik dibanding tepung
     ubi kayu biasa,

2. Mempunyai warna lebih putih dibanding tepung ubi kayu biasa,

3. Mempunyai harga yang relatif murah dibanding beras/terigu.

4. Kandungan serat terlarut(soluble fiber) lebih tinggi dari pada tepung
     gaplek.

5. Kandungan mineral(kalsium) lebih tinggi  (58) dibanding padi  (6)
     dan gandum (16)

6. Oligasakarida penyebab flatulensi sudah terhidrolis.

7. Mempunyai  daya  kembang  setara  dengan  gandum  tipe  II  (kadar
     protein menengah).

8. Daya cerna lebih tinggi dibandingkan dengan tapi

Hasil uji coba tersebut menunjukkan MOCAF dapat digunakan sebagai food ingredient dengan penggunaan yang sangat luas. MOCAF ternyata tidak hanya bisa dipakai sebagai bahan pelengkap, namun dapat langsung digunakan sebagai  bahan  baku  dari  berbagai  jenis  makanan,  mulai  dari  mie,  bakery, cookies hingga makanan semi basah.

Berbagai ujicoba telah dilakukan untuk penerapan MOCAF sejak tahun 2004 antara lain dengan :

  • Produk Mie, Sentafood Indonusa (Karawang)
    ·   Produk Bihun, Tiga Pilar Sejahtera (Solo)
    ·   Produk Biskuit, Indofood (Cikampek)
  • Produk Snack, Garuda Food (Jakarta), Dua Kelinci dan Berkat Aneka
         Pangan (Sukabumi)
  • Aneka makanan, Yayasan Kuliner Indonesia (Jakarta)

Dari hasil pengujian lab nutrisi Malang pada bulan JUNI 2009 diperoleh data sebagai berikut:

Bahan Kering       :87.99                                Kadar Abu                       :1.44

Kadar Air              : 12.01                              Bahan Organik                  :98.56

Protein Kasar                   :3.42                      Serat Kasar                       :2.39

Lemak Kasar                    :0.83                      BETN                               :83.33

 

Dari sumber pengujian lain, yakni dari pengujian di jurusan GMSK, IPB 2010,

diperoleh data kandungan gizi mocaf sebagai berikut:

  • Energi                  :           146 kal – 358 kal – 365 kal2
  • Karbohidrat        :           34,7 g – 88.6 g – 77.3 g3
  • Protein               :          1,2 g – 0,19 g – 8.9 g
  • Lemak                :          0,3 g – 0,02 g – 1.3 g
  • Zat besi             :            0,7 mg – 1,58 mg – 1.2 mg
  • Kalsium                :          33 mg – 20,0 mg – 16.0 mg
  • Fosfor                  :          40 mg – 7,0 mg – 1.2 mg

Sumber : Daftar Kandungan Zat Gizi Bahan Makanan , Jurusan GMSK , IPB 201

Prospek pengembangan bisnis tepung mocaf cukup bagus dilihat dari prospek pasar dan ketersediaan singkong sebagai bahan baku yang berlimpah. Ketersediaan bahan baku singkong yang cukup melimpah di Indonesia dengan harga yang relatif murah,  akan  menjadi  pesaing  produk  tepung  terigu  dan  meningkatkan  pasokan komoditi tepung yang bisa menyubstitusi terigu impor. Dengan biaya produksi yang lebih rendah maka harga jual tepung mocaf bisa lebih murah dibandingkan dengan harga tepung terigu maupun tepung beras. Harga tepung mocaf yang lebih murah dibandingkan dengan terigu menjadi daya tarik yang besar bagi industri-industri makanan  yang berbahan  baku  tepung.  Oleh  karena  itu,  tepung mocaf  memiliki prospek bisnis yang sangat bagus.

 

G.2 Proses Pembuatan Tepung Tapioka

Tepung tapioka berbentuk butiran pati yang banyak terdapat dalam sel umbi
singkong. Adapun urutan pengerjaan proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

1.  Pengupasan dan Pencucian

Singkong terlebih dahulu dikupas kulitnya. Setelah singkong dikupas kemudian
dicuci untuk menghilangkan lendir di bawah kulit. Pencucian dilakukan dalam

bak  permanen  dan  pencucian  yang  baik  adalah  air  selalu  mengalir  terus menerus, dengan demikian air selalu diganti.

2.   Pemarutan

Selesai pencucian, singkong dimasukkan dalam mesin pemarut untuk diparut menjadi bubur. Mesin parut dicuci dengan air. Air ini mengalirkan bubur ke dalam  satu  bak  dan  disinilah  bubur  dikocok.  Dari  bak  bubur  singkong dimasukkan ke alat yang terbuat dari anyaman kawat halus.

3.   Pemerasan dan Penyaringan

Pemerasan  dan  penyaringan  dilakukan  dengan  mesin  (saringan  getar).  Alat penyaring ini  terbuat  dari  anyaman  kawat  halus  yang berlubang kecil-kecil. Bubur  dimasukkan  dalam  alat  dan  pengairan  terus  berlangsung.  Air  dari penyaringan ditapis dengan kain tipis yang dibawahnya disediakan wadah untuk menampung aliran air tersebut. Diatas saringan ampas tertahan, sementara air yang mengandung pati ditampung dalam wadah.

4.   Pengendapan

Pengendapan  dimaksudkan  untuk  memisahkan  pati  murni  dari  bagian  lain
seperti ampas dan unsur-unsur lainnya. Pada pengendapan ini akan terdapat
butiran  pati  termasuk   protein,  lemak,  dan  komponen  lain  yang  stabil  dan
kompleks. Jadi akan sulit memisahkan butiran pati dengan komponen lainnya.
Bahkan ini terdapat berbagai senyawa sehingga dapat menimbulkan bau yang
khas.  Senyawa  alkohol  dan  asam  organik  merupakan  komponen  yang
mempunyai bau khas. Butiran pati yang akan diperoleh berukuran sekitar 4-24
mikron (1 mikron sama dengan 0,001 mm). Sifat kekentalan (viskositas) cairan
tapioka tidak jauh berbeda dengan air biasa. Butiran pati yang berbentuk bulat
dan  mempunyai  berat  jenis 1,5  dan  butiran  ini  harus  cepat  diendapkan.

Kecepatan endapan sangat ditentukan oleh besarnya butiran pati, keasaman air rendaman,  kandungan  protein  yang  ikut,  ditambah  zat  koloidal  lainnya. Pengendapan butiran (granula) umumnya berlangsung selama 24 jam dan akan menghasilkan tebal endapan sekitar 30 cm.

5.  Pengeringan

Pengeringan disini dimaksudkan untuk menguapkan kandungan  air sehingga
diperoleh  tepung  tapioka  yang  kering.  Untuk  itu  endapan  pati  harus  segera
dikeringkan. Pengeringan bisa menggunakan sinar matahari, atau pengeringan
buatan.  Pengeringan buatan  yang  sering  digunakan  adalah  batch  drier ,oven
drier ,cabinet drier , dan drumdrier .  Endapan  pati  yang  terbentuk  semi  cair  ini
mempunyai kandungan air sekitar 40 % dan dengan pengeringan langsung akan
bisa  turun  sampai  17%.  Dalam  pengeringan  harus  diperhatikan  faktor  suhu
terutama yang menggunakan panas buatan. Suhu jangan melebihi  70  –  800C.
Jadi usahakan pengeringan pada suhu di bawah 700C. Gumpalan-gumpalan pati
setelah keluar dari pengeringan langsung dihancurkan guna mendapatkan tepung
yang  diinginkan.  Penghancuran  dapat  melalui  rol  atau  disingrator.  Hasil
dari penghancuran ini masih berupa tepung kasar. Untuk memperoleh tepung
yang halus maka perlu disaring atau diayak (Data Agrobisnis Tapioka, 2008).

 

G.1.3  Pengertian Fermentasi

Fermentasi adalah suatu proses terjadinya perubahan struktur kimia dari
bahan-bahanorganik   dengan   memanfaatkan   aktivitas   agen-agen   biologis
terutama enzim sebagai biokatalis. Karena bahan ini hasil proses mikrobial maka
disebut  produk  fermentasi.Teknologi  fermentasi  merupakan  salah  satu  cara
pengolahan  dan  pengawetan  makanan,  baik secara  konvensional  maupun
modern, dengan memanfaatkan mikroba baik langsung maupuntidak langsung.

Proses reaksi fermentasi :

C6H12O6                               2CH3CHOHCOOH + 22,5 kkal           Asam laktat

C6H12O6                       2CH3CH2OH + 2CO2+ 22 kkal            Etil alcohol

 

 

H. METODE PELAKSANAAN

H.1 Alat dan bahan yang digunakan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini   adalah:

1.     Ketela pohon

2.     garam

3.     aquadest

4.     starter (bahan fermentasi)

5.     Fehling A dan Fehling B

6.     Glukosa standart

7.      NaOH, HCl, n-heksana, Na2SO4, H2SO4, CuSO4.5H2O

8.     Indicator pp

 

Peralatan yang digunakan adalah:

1.  stoples,

2.  pisau

3.    baskom,

4.  sendok,

5.  panci,

6.  pengaduk kayu,

7.  kompor,

8.  blender,

9.  pisau,

10. Erlenmeyer,

11. Beaker glass,

12. Pipet tetes,

13. Pipet volum,

14. Krus porselin,

15. Buret,

16. Labu ukur,

17. Gelas ukur,

18. Autoclave,

19. gelas arloji,

20. Buret,

21. labu khiedjal,

22. labu destilasi,

23. pendingin balik .

H.2 Metode Pelaksanaan Program

Dalam melaksanakan kegiatan ini, berikut tahapan yang kami lakukan:

1.  Tahap persiapan

Tahap persiapan adalah tahap dimana kami melakukan studi pustaka,
mengumpulkan  sejumlah  informasi  tambahan  dan  data  pendukung,
berikut penentuan strategi dan pembuatan jadwal dan rincian   kegiatan.

 

2.  Tahap survey lapangan

Survey  lapangan  ini  bertujuan  untuk  meninjau  kondisi  tempat  yang
sesuai dengan kriteria untuk proses produksi tepung MOCAF ini. Hal ini
meliputi  mengkaji  ketersediaan  bahan  baku  serta  kondisi  masyarakat
sekitar sebagai pihak yang akan mempengaruhi kegiatan produksi tepung
mocaf ini. Selain itu, pada tahap ini kami juga melakukan silaturahmi ke
stakeholder setempat terkait dengan penelitian yang akan kami lakukan.

3.  Tahap persiapan &pengolahan singkong

Pada tahap ini kami mulai penyiapan bahan baku dan peralatan produksi
mocaf dan proses pembuatan mocaf.   Singkong yang telah dikumpulkan
dari  berbagai  wilayah  di  sekitar  Pegunungan  Kapur  Utara  kemudian
kami lakukan pengolahan awal sebelum di olah menjadi tepung. Setelah
selesai  pengolahan  awal,  singkong  selanjutnya  diolah  menjadi  teung
mocaf  dengan  melakukan  pemisahan  berdasarkan  asal  singkong  itu
diperoleh.    Teknik  produksi  tepung  mocaf  dari  singkong  ini  sangat
sederhana dan mudah, serta tidak membutuhkan investasi tinggi untuk
skala rumah tangga. Prinsip dasar dari proses produksi tepung mocaf
adalah   memodifikasi   tepung   singkong   biasa   dengan   melakukan
fermentasi antara lain menggunakan bakteri asam laktat, asam asetat atau
enzim. Dengan perlakuan fermentasi tersebut dihasilkan tepung singkong
yang memiliki tekstur lembut, putih dan tidak berbau khas singkong.

4.  Tahap pengujian

Tahap  berikutnya  adalah  tahap  pengujian  laboraorium  tepung  mocaf
yang dihasilkan dari pengolahan sebelumnya yang meliputi pengujian
kandungan gizi dan mineral, kelayakan konsumsi, dan pengujian kualitas

selanjutnya tahap akhir pengujian sebagai bahan baku untuk pembuatan suatu  produk  makanan  tertentu.  Hasil  makanannya  kemudian  diuji cobakan kepada binatang apakah bisa dikonsumsi atau tidak.

5.  Tahap evaluasi

Evaluasi  ini  digunakan  sebagai  tahapan  untuk  memperbaiki  proses pembuatan dan pengujian tepung mocaf, lalu menyimpulakn singkong jenis mana yang layak untuk diolah sebagai tepung dilanjutkan dengan menyusun  strategi  untuk  mempublikasikan  hasil  penelitian  kepada masyarakat  luas  khususnya  masyarakat  petani  disekitar  Pegunungan Kapur Utara serta para stake holder.

6.  Tahap sosialisasi

Merupakan  tahap  mengenalkan  pengolahan  singkong  lokalmenjadi
tepung  mocaf  yang  telah  diuji  kepada  masyarakat  sekitar  agar
keberadaan  tepung  mocaf  ini  dapat  dijadikan  alternatif  tepung  untuk
berbagai  keperluan  bagi  masyarakat.  Serta  muncul  inisiatif  dari
masyarakat untuk memproduksinya dengan tujuan dikomersilkan.

 

I.  JADWAL KEGIATAN

BULAN KE- 1                      BULAN KE- 2                       BULAN KE- 3

kegiatan                        M1     M2     M3     M4      M1     M2     M3     M4      M1      M2                                         M3     M4

PERSIAPAN

SURVEY LAPANGAN
PENGOLAHAN AWAL
SINGKONG

PEMBUATAN TEPUNG DAN
PENGUJIAN

EVALUASI HASIL
SOSIALISASI HASIL

PENYUSUNAN LAPORAN

J.  RANCANGAN BIAYA

Biaya utama                                                                 : Rp. 1.900.000,00

Biaya penunjang                                                           :Rp.   2.150.000,00

Biaya lain-lain                                                              :Rp.   1.750.000,00   +

 

Total Biaya

 

Rincian Biaya:

  • Biaya utama

Komponen biaya

Bahan baku 200 kg singkong @ 3.000 Bahan kimia (enzim dan lain- lain)

Peralatan penelitian di lab

Uji laboratorium pangan dan gizi

Total biaya

: Rp   5.800.000,00

Alokasi Anggaran

Rp. 600.000,00
Rp. 500.000,00
Rp. 500.000,00

Rp. 300.000,00

Rp. 1.900.000,00

 

 

 

  • Biaya penunjang

 

Komponen biaya                                  Alokasi Anggaran

 

Sosialisasi ke petani dan pihak terkait di                     Rp. 250.000,00

 

lapangan

 

Peralatan lapangan                                                       Rp. 200.000,00

 

Perijinan lokasi penelitian                                            Rp. 200.000,00

 

Snack pembantu proses pembutan mocaf                  Rp. 1.500.000,00

 

20  orang  @  15.000 per  hari selama  5

 

hari

Total biaya                                        Rp. 2.150.000,00

  • Biaya lain- lain

Komponen biaya                                  Alokasi Anggaran

Dokumentasi                                                               Rp. 250.000,00

Publikasi hasil penelitian                                             Rp. 450.000,00

Penyusunan laporan                                                     Rp. 150.000,00

Akomodasi                                                                  Rp. 390.000,00

Total biaya                                        Rp. 1.750.000,00

 

K. DAFTAR PUSTAKA

(file:///K:/MOCAF/Apa%20Itu%20Tepung%20MOCAF%20_%20Kolom%20Pemu da%20.Com.htm)

(file:///K:/MOCAF/%E2%80%9C-mocaf-%E2%80%9D-primadona-tepung-
alternatif-penggani-terigu.html)

file:///K:/MOCAF/Bisnis Tepung Mocaf, Atasi Krisis Terigu Impor.html

file:///K:/MOCAF/Modified%20Cassava%20Flour%20%28MOCAF%29.html

file:///K:/MOCAF/pemasaran_tepung_cassava_fermentasi__mocaf___masih_banyak _kendala.html

file:///K:/MOCAF/USAHA%20TEPUNG%20MOCAF,TEPUNG%20MOCAR,PEL UANG%20USAHA%20TEPUNG%20MOCAF,MOCAF.html

http://mocafindonesia.blogspot.com/

http://wara-hapsari.blogspot.com/2012/02/mocaf-alternatif-pengganti-tepung.html

LAMPIRAN

1. BIODATA KETUA serta ANGGOTA KELOMPOK

Ketua Kelompok :

Nama                                       :   Mohamat Ansori

TTL                                         :   Grobogan, 30 mei 1990

Agama                                     :   Islam

Alamat rumah/asal, kode pos :   Ngloco, Rt 01/06, Selo, Tawangharjo, Kab. Grobogan

No. Telp                                  : 085640043612

e-mail                                      : anzorryna.01@gmail.com

Riwayat Organisasi                 : Anggota OSIS SMPN 1 Tawangharjo

: Anggota PRAMUKA SMPN 1 Tawangharjo

: Staff   Dept. Kebijakan Publik   BEM KM FT UNDIP

: Staff Dept. BPMAI FSMM FT UNDIP

: Ketua Dept. Kaderisasi IIC 2012

: Anggota FITT Fakultas Teknik UNDIP

: Staff Creative and Bussiness IMA SC UNDIP

: staff Kementrian Sosial Politik BEM KM UNDIP

Prestasi

:-* Peserta Terbaik 3 LKMM Pra DASAR HMTI 2010 :-* Peserta Terbaik 4 LKMM DASAR 2012 BEM KM FPIK UNDIP

Mengetahui,

 

 

 

Mohamat Ansori

NIM. 21070110130079

Anggota Kelompok I:

 

Nama                           : Sugiarti Norvia

NIM                            : 25010110141052

TTL                             : Semarang, 28 November 1992

Alamat                        :   Jl.Minto jiwo dalam 1/26 Semarang.

No. Telp                      : 085740554054

e-mail                          : norvia.sn@gmail.com

 

Mengetahui,

 

Sugiarti Norvia

NIM. 24030110130052

 

2.   BIODATA DOSEN PENDAMPING

Nama Lengkap            : Susatyo Nugroho.W.P, ST, MM

Jabatan / Gol./ NIP     : Dosen Kemahasiswaan / IVD / 19690311 199702 1 001

Jenis Kelamin              : Laki-laki

Alamat                        : Jl. Lamongan Barat I/11, Semarang.

Telepon                       :  0878 3202 1969

Mengetahui,

Susatyo Nugroho.W.P, ST, MM
               19690311 199702 1 00

 

3. Peta Pegunungan Kapur Utara (Kendeng Utara) Jawa Tengah

 

 

Gambar 3. Lokasi Pegunungan Kendeng Utara Di Jawa Tengah

 

4.  Gambar proses tahapan pembuatan tepung mocaf

Pencucian dan Pengupasan                                           Singkong kupas di bersihkan

Pemberian Enzim dan Perendaman

Perajangan/ pemotongan Singkong.

Pengeringan dengan Matahari Mesin Penepung Tepung Mocaf

 

Gambar 4. Skema Pembuatan Mocaf

Pengoptimalan kertas HVS bekas dengan menggunakan metode hidrolisis enzim selulase dari trichoderma viride sebagai penghasil bioetanol

  1. A.  Judul Program

Pengoptimalan kertas HVS bekas dengan menggunakan metode hidrolisis enzim selulase dari trichoderma viride sebagai penghasil bioetanol

  1. B.  Latar Belakang Masalah

Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia mengakibatkan meningkatnya kebutuhan manusia akan sumber energi yang digunakan untuk berbagai aktivitas. Hal ini mengakibatkan peningkatan kebutuhan manusia terhadap bahan bakar minyak (BBM). BBM berbasis minyak bumi merupakan suatu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Oleh karena itu, semua aktivitas manusia akan terhambat dengan menipisnya bahan bakar ini.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM (Prihandana, 2007). Dimana sumber energi alternatif tersebut dapat digunakan sebagai pengganti BBM yang jumlahnya sangat terbatas. Kebijakan energi nasional menargetkan pada tahun 2000-2025 sebesar 5% kebutuhan energi nasional harus dapat dipenuhi melalui pemanfaatan biofuel sebagai energi baru. Salah satu sumber energi alternatif yang dapat digunakan adalah bioetanol yang dapat dihasilkan dari berbagai tanaman.

Bioetanol dapat dihasilkan dari berbagai tanaman, maupun bahan yang terdapat glukosa. Namun, bahan lain yang merupakan penghasil selulosa dapat juga digunakan sebagai bioetanol bila dihidrolisis terlebih dahulu menjadi glukosa. Kertas sebagai material yang mengandung kandungan selulosa yang cukup tinggi, merupakan salah satu alternatif bahan baku yang potensial untuk dapat dikonversikan menjadi etanol (Taruna dkk, 2010). Kertas bekas yang telah digunakan untuk aktivitas manusia dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasil etanol.

Konsumsi kertas di Indonesia terus meningkat satu kilogram (kg) per kapita tahun atau sekitar 220 ribu ton. Kertas yang telah digunakan, biasanya hanya akan dibuang dan menjadi tumpukan sampah yang menimbulkan masalah baru seperti pembakaran kertas yang dapat menimbulkan efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozon, menimbulkan bau yang tidak sedap, dll.

Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan kertas bekas, dilakukan hidrolisis selulosa kertas dengan enzim selulase dari trichoderma viride menjadi glukosa. Glukosa hasil hidrolisis difermentasi dengan saccharomyces cereviseae dari yeast untuk menjadi bioetanol. Bioetanol berfungsi sebagai sumber energi alternatif pengganti BBM.

 

  1. C.  Perumusan masalah

Proses produksi bioetanol memerlukan bahan yang mengandung glukosa untuk dapat difermentasi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari banyak bahan hasil aktivitas tak terpakai yang dapat diubah menjadi glukosa. Kertas HVS merupakan bahan penghasil selulosa cukup tinggi yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa. Material ini dihidrolisis dengan enzim selulase dari trichoderma viride. Hidrolisis enzimatis dengan enzim selulase memiliki beberapa keuntungan dibandingkan hidrolisis asam, antara lain: tidak terjadi degradasi gula hasil hidrolisis, kondisi proses yang dibutuhkan lebih lunak (suhu rendah, pH netral), dapat dilakukan pada temperatur ruang dan tekanan atmosfer, berpotensi memberikan hasil yang tinggi, dan biaya pemeliharaan peralatan relative rendah karena tidak ada bahan yang korosif (Taherzadeh & Karimi, 2007), selain itu, hidrolisis enzimatis ini tidak menggunakan asam sehingga ramah lingkungan. Trichoderma viride digunakan karena mudah didapatkan dan menghasilkan enzim selulase yang cukup tinggi.

  1. D.  Tujuan Program

Penelitian ini bertujuan untuk membuat bioetanol dengan menggunakan selulosa kertas HVS bekas melalui hidrolisis enzim selulase dari trichoderma viride dan fermentasi glukosa dengan saccharomyces cereviseae dari yeast.

  1. E.  Luaran yang Diharapkan

Dari penelitian ini diharapkan kertas HVS bekas dapat termanfaatkan lebih baik dan tepat guna sebagai bahan dasar penghasil bioetanol sumber energi alternatif pengganti BBM. Hal ini menjadi solusi mengatasi kelangkaan sumber energi di Indonesia dan mendatangkan keuntungan finansial serta membuka lapangan pekerjaan baru.

  1. F.   Kegunaan Program
    1. Memperoleh produk bioetanol sebagai sumber energi alternatif pengganti BBM.
    2. Mengurangi limbah kertas HVS hasil pemakaian dalam perkantoran dan kehidupan sehari-hari, dimana menimbulkan masalah baru seperti pembakaran kertas yang dapat menimbulkan efek rumah kaca, menipisnya lapisan ozon, menimbulkan bau yang tidak sedap, dll.
    3. Salah satu solusi efektif dalam mengatasi krisis atau kelangkaan sumber energi yang terjadi di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.
    4. Mengurangi dampak pencemaran dan bahaya lingkungan akibat penggunaan asam pada hidrolisis selulosa menjadi glukosa.

G. Tinjauan Pustaka

Klasifikasi Kertas Bekas

Komposisi kertas HVS sebagian besar terdiri dari selulosa dibandingkan dengan kandungan lignin atau hemiselulosa. Kandungan selulosa pada kertas HVS, mampu mencapai 90% berat. Makin tinggi kandungan selulosa pada kertas maka jumlah glukosa yang dihasilkan pada proses hidrolisis akan lebih besar sehingga akan memungkinkan jumlah etanol yang terproduksi juga akan semakin besar (Taruna, dkk. 2010).

Jumlah etanol yang rendah yang dihasilkan dari pengolahan kertas buram, dikarenakan jumlah lignin yang cukup besar yang dikandung oleh kertas buram. Lignin merupakan komponen fenolik yang tidak mengandung gugus glukosa, maka produk degradasi lignin tidak dapat difermentasikan menjadi alkohol (Taruna, dkk. 2010).

Komponen Lignoselulosa

Selulosa

Selulosa adalah salah satu komponen utama dari lignoselulosa yang terdiri dari unit monomer D-glukosa yang terikat pada ikatan 1,4-glikosidik. Selulosa cenderung membentuk mikrofibril melalui ikatan inter dan intra molekuler sehingga memberikan struktur yang larut. Mikrofibril selulosa terdiri dari 2 tipe, yaitu kristalin dan amorf.

Selulosa adalah karbohidrat yang paling melimpah dan mudah diperbarui. Akhir-akhir ini, banyak peneliti mengungkapkan bahwa limbah yang mengandung selulosa dapat digunakan sebagai sumber gula yang murah dan mudah didapat untuk menggantikan bahan pati dalam proses fermentasi (Graf & Koehler, 2000). Sumber selulosa yang dapat digunakan diantaranya adalah sisa-sisa produk pertanian dan hasil hutan, kertas bekas, dan limbah industri (White, 2000).

Hemiselulosa

Hemiselulosa merupakan salah satu penyusun dinding sel tumbuhan selain selulosadan lignin, yang terdiri dari kumpulan beberapa unit gula atau disebut heteropolisakarida, dan dikelompokkan berdasarkan residu gula utama sebagai penyusunnya seperti xylan, mannan, galactan dan glucan.Hemiselulosa terikat dengan polisakarida, protein dan lignin dan lebih mudah larut dibandingkan dengan selulosa.

Lignin

Lignin adalah bagian utama dari dinding sel tanaman yang merupakan polimer terbanyak setelah selulosa. Lignin yang merupakan polimer aromatik berasosiasi dengan polisakarida pada dinding sel sekunder tanaman dan terdapat sekitar 20-40% .Komponen lignin pada sel tanaman (monomer guasil dan siringil) berpengaruh terhadap pelepasan dan hidrolisis polisakarida (Anindyawati, T. 2009).

Enzim-Enzim Pendegradasi Lignoselulosa

Selulase

Selulase dapat diproduksi oleh fungi, bakteri, dan ruminansia.Produksi enzim secara komersial biasanya menggunakan fungi atau bakteri. Fungi yang bisa menghasilkan selulase antara lain genus Tricoderma, Aspergillus, dan PenicilliumSedangkan bakteri yang bisa menghasilkan selulase adalah Pseudomonas, Cellulomonas, Bacillus, Micrococcus, Cellovibrio, dan Sporosphytophaga.  (Sa’adahdkk.,2007).

Tricodherma viridae

Trichoderma viride merupakan kelompok fungi tanah sebagai penghasil selulase yang paling efisien (Davidek et al., 1990). Aplikasi selulase sangat terpakai di dunia industri, dimana enzim ini dapat mengkonversi materi biomassa suatu tumbuhan seperti selulosa menjadi bioproduk yang berguna seperti gula (glukosa) dan bioetanol.(Rapp et al. 1981; Srivastava et al. 1984; Schmid et al. 1987; Kwon et al. 1992; Saha et al. 1995). Keuntungan fungi tersebut sebagai sumber selulase adalah menghasilkan selulase lengkap dengan semua komponen-komponen yang dibutuhkan untuk hidrolisis total selulosa kristal dan protein selulosa yang dihasilkan cukup tinggi.

Trichoderma viride banyak digunakan dalam penelitian karena memiliki beberapa keuntungan, dinataranya adalah: 1. Selulase yang diperoleh mengandung semua komponen-komponen yang diperlukan untuk proses hidrolisis seluruh kristal selulosa. 2. Protein selulase dihasilkan dalam kualitas sangat tinggi. Dijelaskan oleh Gilbert dan Tsao (1983), selulase yang dihasilkan oleh Trichoderma viride mengandung komponen terbesar berupa selobiase dan β-1,4-glukan-selobiohidrolase (C1), sementara β-1,4-glukan-selobiohidrolase (Cx) terdapat dalam jumlah kecil. Selulase yang diproduksi mengandung asam-asam amino tertentu, yaitu : 1. Golongan asam amino yang bersifat asam : aspartat dan glutamat. 2. Golongan asam amino polar : serin, treonin, dan glisin. 3. Sebagian kecil asam amino dasar. 4. Sebagian kecil golongan asam amino sulfur. Semua enzim ini bersifat hidrolitik dan bekerja baik secara berturut-turut atau bersamaan. Selobiohidrolase adalah enzim yang mempunyai afinitas terhadap selulosa tingkat tinggi yang mampu memecah selulosa kristal. Sedangkan endoglukanase bekerja pada selulosa amorf (Coughalan, 1989). Selanjutnya dijelaskan selobiohidrolase memecah selulosa melalui pemotongan ikatan hidrogen yang menyebabkan rantai-rantai glukosa mudah untuk dihidrolisis lebih lanjut. Hidrolisa selanjutnya berlangsung sehingga diperoleh selobiosa dan akhirnya glukosa dilakukan oleh enzim β–glukonase dan β–glukosidase. Keunggulan – keunggulan inilah yang menyebabkan Trichoderma viride dapat dimanfaatkan dalam usaha untuk meningkatkan efesiensi pembuatan bioetanol.

Saccharomyces cereviseae

Saccharomyces cerevisiae dapat memproduksi etanol dalam jumlah besar dan mempunyai toleransi terhadap alkohol yang tinggi. Selain Saccharomyces cerevisiae, Zymomonas mobilis juga sangat potensial, namun bakteri ini perlu dikembangkan lebih lanjut, karena toleransinya yang rendah terhadap garam dalam media dan membutuhkan media yang steril, sehingga menyulitkan untuk aplikasi skala industri (Iida, dkk., 1993; Saroso, 1998; Hepworth, 2005). Oleh karena itu Ragi (Saccharomyces cerevisiae) adalah mikroorganisme penghasil etanol yang paling dikenal saat ini. Efisiensi fermentasi dapat ditingkatkan dengan cara mengamobilisasi sel mikroorganisme yang digunakan. Amobilisasi sel bertujuan untuk membuat sel menjadi tidak bergerak atau berkurang ruang geraknya sehingga sel menjadi terhambat pertumbuhannya dan subtrat yang diberikan hanya digunakan untuk menghasilkan produk.

Analisa Kertas HVS Bekas Pakai

Kompleksnya kandungan yang terdapat pada limbah kertas harus diperhatikan. Karena kekompleksan ini bisa menjadi kendala utama dalam memproduksi selulosa pada limbah kertas. Lignin dan Hemiselulosa pada kertas menjadi salah satu faktor penghalang utama pada reaksi hidrolisis selulosa (Xiang et.al.,2003). Struktur lignin sangat kuat karena tersusun dari gugus aromatik yang sangat panjang. Setiap gugus aromatik yang terdapat pada lignin dihubungkan oleh rantai karbon yang memiliki gugus eter. Akibatnya selulosa dan hemiselulosa sukar diurai menjadi glukosa. Adanya lignin yang masih menutupi atau melindungi selulosa dan hemiselulosa sehingga enzim selulase tidak dapat masuk dan berikatan dengan selulosa (Elba, 2006).

Selain komponen lignin dan hemiselulosa, jenis pengotor lainnya yaitu toner, pigmen, kandungan logam pada kertas, dan beberapa pengotor lainnya, juga akan mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan. Dengan tingginya kandungan pengotor pada kertas akan menghambat laju reaksi hidrolisis pada kertas (Taruna dkk.,2010). Jika limbah kertas langsung memasuki tahap hidrolisis tentu akan sangat mengurangi produksi etanol yang dihasilkan karena faktor pengotor tersebut. Oleh karena itu, butuh perlakuan awal sebelum proses hidrolisis agar didapatkan selulosa yang sangat mudah untuk dihidrolisis pada tahap selanjutnya. Selulosa yang mengalami tahap pretreatment akan menunjukkan laju reaksi hidrolisis yang lebih cepat jika dibandingkan dengan selulosa yang tidak mengalami tahap pretreatment (Xiang et.al.,2003). Dengan adanya tahap perlakuan awal maka struktur lignoselulosa menjadi struktur yang acak dan relatif lebih terbuka sehingga memudahkan akses enzim selulase dalam menguraikan selulosa menjadi glukosa (Elba, 2006).

Menurut Hendra Taruna dkk.(2010), ada dua alternatif utama untuk mendapatkan selulosa dari limbah kertas HVS yang susceptible untuk reaksi hidrolisis. Alternatif pertama dengan merubahnya kembali menjadi pulp dengan proses alkaline peroxide bleaching. Alternatif kedua adalah dengan hanya merubah struktur selulosa yang kristalin menjadi amorf dengan penambahan asam sulfat.

Untuk memudahkan proses ini, HVS yang bertinta dan tidak bertinta dipisahkan. Klasifikasi limbah kertas berdasarkan jenis tinta bertujuan untuk mengetahui efek tinta terhadap jumlah etanol yang dihasilkan (Tarunadkk, 2010).

Ada dua metode yang digunakan untuk proses pretreatment limbah kertas HVS ini yaitu peroxide pretreatment dan acid pretreatment. Limbah kertas HVS yang mengandung tinta fleksografi berwarna menghasilkan jumlah etanol lebih tinggi jika dibandingkan dengan kertas yang dicetak dengan elektrofotografi, hal tersebut mengindikasikan bahwa tinta berwarna mengandung pigmen organik yang lebih mudah terdegradasi pada proses acid pretreatment. Tinta ini merupakan bahan yang dapat larut dalam larutan alkali sehingga proses penghilangan tinta dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Sedangkan pada proses peroxide bleaching pada suasana basa, hidrogen peroksida akan bereaksi sebagai radikal OH· ataupun ion OOH yang merupakan produk dekomposisi dari hidrogen peroksida (Ensiklopedia, 1995). Radikal dan ion yang tebentuk akan menyerang gugus aromatik pada lignin dan pada tinta organik, yang umumnya merupakan senyawaan aromatik yang memiliki ikatan rangkap yang mudah terdekomposisi melalui reaksi oksidasi ataupun reduksi oleh hidrogen peroksida (Tarunadkk,2010).

Tahap peroxide pretreatment menghasilkan jumlah etanol yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pengolahan limbah kertas HVS dengan menggunakan metode acid pretreatment. Rendahnya jumlah etanol yang dihasilkan pada proses peroxide pretreatment diakibatkan terjadinya fiber loss. Terjadinya fiber loss disebabkan adanya reaksi oksidasi ataupun mekanisme reaksi peeling dan chain scission oleh peroksida yang akan menurunkan jumlah selulosa yang terhidrolisis. Reaksi peeling dan chain scission terjadi karena terbentuknya oksigen pada peroxide pretreatment, di mana oksigen ini juga dapat merusak struktur monosakarida sehingga berefek pada penurunan jumlah etanol yang dihasilkan (Taruna, H., dkk., 2010). Oleh karena itu, metode acid pretreatment lebih mudah digunakan dan jumlah etanol yang diperoleh lebih banyak daripada metode peroxide pretreatment.Pada acid pretreatment struktur lignin terdegradasi sehingga selulosa mudah diperoleh.

Hidrolisis Selulosa

Setelah melalui proses pretreatment pada limbah kertas HVS, kemudian dilakukan proses hidrolisis dari selulosa yang diperoleh dari tahap awal. Hidrolisis selulosa merupakan proses pemutusan ikatan b-1,4-glikosida pada selulosa. Proses hidrolisis ini merupakan proses penting untuk menghasilkan etanol yang dapat dibuat dari fermentasi glukosa yang diperoleh dari hasil hidrolisis selulosa. Hidrolisis selulosa dari limbah kertas HVS akan menghasilkan etanol yang cukup banyak dikarenakan kandungan  selulosa pada kertas HVS ini mencapai 90% (Tarunadkk, 2010).

 Image

Gambar 1. Struktur Selulosa

 

Proses hidrolisis selulosa dapat dilakukan dengan metode hidrolisis asam dan enzimatis. Secara teoritis, proses hidrolisis dengan menggunakan asam sulfat dengan konsentrasi yang rendah akan menghasilkan yield glukosa hingga 50% dalam waktu yang cukup singkat (Xiang et.al.,2003). Rendahnya yield glukosa ini disebabkan oleh adanya degradasi gula hasil hidrolisis yang terbentuk karena temperatur reaksi yang digunakan sangat tinggi .Temperatur yang dibutuhkan adalah mencapai 200oC.Degradasi gula tersebut tidak hanya menurunkan konversi reaksi, namun juga dapat meracuni mikroorganisme pada saat reaksi fermentasi pada pembentukan etanol (Anonim, 2010).

Penggunaan asam pekat untuk proses hidrolisis selulosa dilakukan pada temperatur yang lebih rendah daripada asam encer.Temperatur reaksi adalah 100oC dan membutuhkan waktu reaksi antara 2 dan 6 jam.Temperatur yang lebih rendah meminimalisasi degradasi gula.Penggunaan asam pekat ini memiliki keuntungan yaitu konversi gula yang dihasilkan tinggi bisa mencapai konversi 90% (Badger, 2002).Kekurangan reaksi ini adalah waktu reaksi yang dibutuhkan lebih lama dibandingkan dengan penggunaan asam sulfat encer dan membutuhkan proses pencucian yang baik untuk mencapai pH reaksi sebelum ditambahkan mikroba pada proses fermentasi pembentukan etanol. Penggunaan asam sulfat juga dibutuhkan pada proses netralisasi yang menghasilkan limbah gypsum atau kapur yang sangat banyak dan dapat mencemari lingkungan (Taherzadeh & Karimi, 2007).

 

 

 

 

 

 

 

 Image

Gambar 2.Mekanisme hidrolisis selulosa dengan asam  (Xiang, et.al.,2003).

Asam sulfat merupakan asam yang paling banyak diteliti dan dimanfaatkan untuk hidrolisis asam.Namun, kekurangan menggunakan metode ini adalah kurang ramah lingkungan.Terlebih lagi adalah bahaya zat asam yang digunakan terhadap kesehatan manusia.Di sisi lain, Hidrolisis asam pekat juga membutuhkan biaya investasi dan pemeliharaan yang tinggi, hal ini mengurangi ketertarikan untuk komersialisasi proses ini (Taherzadeh & Karimi, 2007).

Proses hidrolisis dengan menggunakan enzim, telah banyak digunakan. Karena enzim selulase yang digunakan untuk memecah selulosa kini telah banyak dikembangkan dari berbagai tanaman dan hewan serta mudah diperoleh.Enzim selulase yang digunakan untuk menghidrolisis selulosa banyak digunakan di bidang perindustrian.Salah satu penghasil enzim selulase ini adalah jamur dan bakteri.Kondisi pH optimum untuk jamur penghasil selulase umumnya bersifat asam.pH optimum aktivitas enzim selulase berkisar pada pH 4,5 – 6,5 (Susilawati, dkk., 2002). Salah satu jamur yang penghasil selulase adalah Jamur T. viride tumbuh baik pada suhu 550C dengan menghasilkan kadar gulapereduksi paling tinggi, yaitu sebesar 0,5676 mg/mL(Susilawati dkk., 2002). Satu unit aktivitas selulase didefinisikan sebagai jumlah enzim yang menghasilkan 1 μmol glukosa dalam satu menit. Satu unit aktivitas setara dengan 16,67 nkat (Dybkaer,2001).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Image

Gambar 3. Mekanisme hidrolisis selulosa dengan enzim (Tomas et.al., 2010)

 

Aplikasi hidrolisis menggunakan enzim secara sederhana dilakukan dengan mengganti tahap hidrolisis asam dengan tahap hidrolisis enzim pada selulosa. Hidrolisis enzimatis memiliki beberapa keuntungan dibandingkan hidrolisis asam, antara lain: tidak terjadi degradasi gula hasil hidrolisis, kondisi proses yang lebih lunak (suhu rendah, pH netral) dapat dilakukan pada temperatur ruang dan tekanan atmosfer, berpotensi memberikan hasil yang tinggi, dan biaya pemeliharaan peralatan relatif rendah karena tidak ada bahan yang korosif (Taherzadeh & Karimi, 2007), efisisensi reaksi tinggi karena enzim bersifat selektif sehingga pembentukan produk samping dapat diminimalisasi. Kelemahan menggunakan enzim memang memerlukan waktu yang lebih lama daripada dengan menggunakan asam tetapi lebih ramah lingkungan.Waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 72 jam.

Oleh karena itu, jika melihat suatu proses yang mengarah pada Green Chemistry dan hasil yang lebih baik ,metode hidrolisis dengan menggunakan enzim lebih baik digunakan daripada menggunakan hidrolisis asam.

Fermentasi Glukosa Menjadi Etanol

Proses ini merupakan tahap lanjut dari proses hidrolisis selulosa dengan asam ataupun enzim yang menghasilkan glukosa. Setelah proses hidrolisis kemudian dilakukan fermentasi menggunakan yeast seperti S. cerevisiae untuk mengkonversi menjadi etanol.

Proses hidrolisis dan fermentasi ini akan sangat efisien dan efektif jika dilaksanakan secara berkelanjutan tanpa melalui tenggang waktu yang lama, hal ini yang sering dikenal dengan istilah Simultaneous Sacharificatian danFermentation (SSF) (Samsuri dkk., 2007).

SSF yaitu kombinasi antara hidrolisis menggunakan enzim selulase dan yeast S. cerevisiae untuk fermentasi gula menjadi etanol secara simultan. Proses SSF sebenarnya hampir sama dengan dengan proses yang terpisah antara hidrolisis dengan enzim dan proses fermentasi, hanya dalam proses SSF hidrolisis dan fermentasi dilakukan dalam satu reaktor (Takagiet. al, 1977).

Keuntungan dari proses ini adalah polisakarida yang terkonversi menjadi monosakarida tidak kembali menjadi poliskarida karena monosakarida langsung difermentasi menjadi etanol. Selain itu, dengan menggunakan satu reaktor dalam prosesnya akan mengurangi biaya peralatan yang digunakan (Samsuridkk., 2007).

Proses fermentasi yang terjadi pada kondisi anaerob oleh S. Cerevisiae

 

C6H12O6          S. Cerevisiae        C2H5OH + 2CO2

 

            Saccharomyces cerevisiae merupakan mikroorganisme yang palingbanyak digunakan pada fermentasi alkohol karena dapat berproduksi tinggi, tahanterhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan terhadap kadar gula yang tinggi dan tetapaktif melakukan aktivitasnya pada suhu 4 – 32oC (Kartika et.al.,1992).

Untuk mendapatkan bioetanol dengan kemurnian tinggi, harus dilakukan proses pemurnian dengan cara destilasi. Destilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari broth fermentasi yang sebagian besar adalah air.Untuk mendapatkan etanol sampai dengan kemurnian 95% volume, dilakukan destilasi bertingkat dengan mengumpankan hasil destilasi pertama ke unit destilasi selanjutnya. Dengan demikian, teknologi proses yang efektif menggunakan bahan baku lignoselulosa dapat menghasilkan produk bioetanol untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang. (Anindyawati, 2009).

 

  1. H.  Metode Pelaksanaan Program

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu tahap acid pretreatment untuk memisahkan antara lignin, hemiselulosa, dan selulosa. Tahap selanjutnya yaitu hidrolisis selulosa dengan enzim selulase dari trichoderma viride. Produk yang dihasilkan merupakan glukosa yang kemudian dilakukan tahap fermentasi dengan saccharomyces cereviseae dari yeast untuk menghasilkan bioetanol.

H.2. Alat dan Bahan

H.2.1. Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah adalah peralatan gelas, fermentor, destilat, evaporator, gelas beker, pipet tetes.

H.2.2. Bahan-bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah asam pekat, trichoderma viride, yeast/ragi, dan air

H.3. Cara Kerja

H.3.1 Acid Pretreatment

Untuk memudahkan proses ini, HVS yang bertinta dan tidak bertinta dipisahkan. Struktur selulosa pada kertas HVS yang kristalin menjadi amorf dengan penambahan asam sulfat. Kertas dihancurkan hingga menjadi bubur

H.3.2 Hidrolisis Selulosa menjadi glukosa

            Hidrolisis Asam

            Penggunaan asam pekat untuk proses hidrolisis selulosa dilakukan pada temperatur yang lebih rendah daripada asam encer. Temperatur reaksi adalah 100oC dan membutuhkan waktu reaksi antara 2 dan 6 jam. Temperatur yang lebih rendah meminimalisasi degradasi gula. Penggunaan asam pekat ini adalah memiliki keuntungan yaitu konversi gula yang dihasilkan tinggi bisa mencapai konversi 90% (Badger, 2002). Kekurangan reaksi ini adalah waktu reaksi yang dibutuhkan lebih lama dibandingkan dengan penggunaan asam sulfat encer dan membutuhkan proses pencucian yang baik untuk mencapai pH reaksi sebelum ditambahkan mikroba pada proses fermentasi pembentukan etanol.

Hidrolisis Enzimatis

Hidrolisis menggunakan enzim secara sederhana dilakukan dengan mengganti tahap hidrolisis asam dengan tahap hidrolisis enzim pada selulosa. Hidrolisis enzimatis dengan enzim selulase memiliki beberapa keuntungan dibandingkan hidrolisis asam, antara lain: tidak terjadi degradasi gula hasil hidrolisis, kondisi proses yang dibutuhkan lebih lunak (suhu rendah, pH netral), dapat dilakukan pada temperatur ruang dan tekanan atmosfer, berpotensi memberikan hasil yang tinggi, dan biaya pemeliharaan peralatan relative rendah karena tidak ada bahan yang korosif (Taherzadeh & Karimi, 2007), selain itu, hidrolisis enzimatis ini tidak menggunakan asam sehingga ramah lingkungan.

H.3.3 Fermentasi Glukosa menjadi Etanol

            Setelah proses hidrolisis selulosa dengan asam ataupun enzim yang menghasilkan glukosa kemudian dilakukan fermentasi menggunakan yeast seperti S. cerevisiae untuk mengkonversi menjadi etanol.

H.3.4 Destilasi dan Dehidrasi

Etanol hasil fermentasi kemudian di destilasi dan dilakukan dehidrasi untuk menghilangkan air.

 

  1. I.                   Jadwal Kegiatan Program

Tabel Jadwal Kegiatan PKMP

Kegiatan

Bulan 1

Bulan 2

Bulan 3

Bulan 4

Bulan 5

1. Penyiapan Alat, Bahan

 

 

 

 

 

2. Percobaan Laboratorium

 

 

 

 

 

3. Analisa Laboratorium

 

 

 

 

 

4. Analisa Data

 

 

 

 

 

5. Studi Pustaka

 

 

 

 

 

6. Penyusunan Laporan

 

 

 

 

 

 

  1. J.    Rancangan Biaya

No.

Rekapitulasi Biaya Penelitian

 

Jumlah Pengeluaran

1.

Bahan habis pakai

Rp  3.750.000,-

2.

Peralatan penunjang PKMP

Rp     350.000,-

3.

Biaya perjalanan

Rp     800.000,-

4.

Biaya analisis

Rp  4.150.000,-

5.

Penyusunan dan penggandaan laporan

Rp     550.000,-

4.

Biaya pengeluaran lain-lain

Rp.    400.000,-

 

Jumlah

Rp. 10.000.000,-

 

 

 

JENIS PENGELUARAN

 

ANGGARAN YANG DIUSULKAN

Bahan Habis Pakai

Trichodrema Viride

Rp  1.715.000,-

Limbah kertas HVS

Rp    905.000,-

Asam Sulfat pekat

Rp    775.000,-

Yeast/ ragi

Rp    325.000,-

Akuades

Rp      80.000,-

Peralatan Penunjang PKMP

Kertas saring Hoffman @ 125.000

Rp    400.000,-

pH indikator 1 pak

Rp    100.000,-

Fermentor

Rp 1.000.000,-

Destilat

Rp 1.500.000,-

Evaporator

Rp 1.500.000,-

Biaya Perjalanan

Transportasi dalam kota selama

penelitian

Rp   200.000,-

Transportasi luar kota,

analisis hasil

Rp   600.000,-

Penyusunan dan Penggandaan Laporan

  1. 1 Rol Film cuci cetak
  2. Kertas kuarto 80 gram
  3. Tinta
  4. Fotokopi laporan dan pengadaan literatur serta jurnal

Rp  150.000,-

Rp  100.000,-

Rp    50.000,-

Rp  250.000,-

Pengeluaran Lain-Lain

Sewa Peralatan Laboratorium

Rp  200.000,-

Biaya lain-lain tidak terduga

Rp  200.000,-

 

 

  1. K.                  DAFTAR PUSTAKA

Anindyawati, T. 2009. Prospek Enzim Dan Limbah Lignoselulosa Untuk Produksi Bioetanol. Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI.

Castello, R., dan Chum, H. (1998).Biomass, bioenergi dan carbon management. In “Bioenergi ’98: Expdaning Bioenergi Partnerships” (D. Wichert, ed.). pp. 11-17.

Chandel, A. K., E.S. Chan., R. Rudravaram, M. L.Narasu, L. V. Rao, and P. Ravindra. 2007. Economics and Environmental Impact ofBioethanol Production Technologies : AnAppraisal. Biotechnology and Molecular Biology Review Vol. 2 (1), 14-32.

Dian S., Saadah D., Shabarni G. 2007. Degradasi Enzimatik Selulosa Dari Batang Pohon Pisang Untuk Produksi Glukosa Dengan Bantuan Aktivitas Selulolitik Trichoderma viride. Laporan Penelitian Dasar (Litsar) Universitas Padjadjaran.

Elba, Bon P. S.. 1996. Ethanol Production Via Enzymatic Hydrolisis of Sugar-Cane Bagasse and Straw. Chemistry Institute Federal University of Rio de Jenero, (Online), (http//www.fiesp.com.br/agencianoticias/2007/05/15/elba.bon.pdf, diakses 3Maret 2009).

Gerhatz, W. 1990.Enzyme in Industry :Production and Application. VCH Verlagsgesellschaaft mbH, D 6940 Weinheim. p. 81-82.

Graf, A. & Koehler, T. 2000.Oregon Cellulose-Ethanol study.An Evaluation of the potential for ethanol production in Oregon using cellulose-based feedstock.Oregon Office of Energy. Oregon.

Kartika, B., A.D. Guritno, D. Purwadi, D. Ismoyowati. 1992. Petunjuk Evaluasi Produk Industri Hasil Pertanian. PAU Pangan dan Gizi UGM.Yogyakarta. Kompas, 2010.Edisi 13 Maret 2010. Bandung.

Kunaepah,U. 2008. Pengaruh Lama Fermentasi Dan Konsentrasi Glukosa Terhadap Aktivitas Antibakteri, Polifenol Total Dan Mutu Kimia Kefir Susu Kacang Merah. Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat S-2. Universitas Dipenegoro.

Lee, S. S., J. K. Ha, H. S. Kang, T. McAllister, and K.-J.Cheng. 1997. Overview of energymetabolism, substrate utilization and fermentationcharacteristics of ruminal anaerobic fungi. Korean J. Anim. Nutr. Feedstuffs 21:295–314.

Lin, Yan, and S. Tanaka. 2006. Ethanol fermentation from biomass reseources : current state and prospects. Appl.Microbiol. Biotechnol. 69: 627-642.

Maryana, R. 2006. Pengembangan Bioetanol dari Starchy Materials dan Lignoselulosa Sebagai Salah Satu Energi Alternatif. Prosiding Seminar Nasional Kimia danPendidikan. Hal 206-212.

Perez, J., J.M. Dorado, T. Rubia, and J. Martinez. 2002. Biodegradation and biologicaltreatments of cellulose, hemicellulose andlignin : an overview. Int. Microbiol 5: 53-63.

Prihandana.2007. Bioetanol Ubi kayu Bahan Bakar Masa Depan.Agromedia. Jakarta.

Qian Xiang et.al., 2003, Heterogeneous Aspects Of Acid Hydrolysis Of a Cellulose, Humana Press, Vol 105-108. R. Dybkaer, Pure Appl Chem 73 (2001) 927.

Sa’adah D., Shabarni, G., 2007. Degradasi Enzimatik Selulosa Dari Batang Pohon Pisang Untuk Produksi Glukosa Dengan Bantuan Aktivitas Selulolitik Trichoderma viride. Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran.

Samsuri, M., M. Gozan, R. Mardias, M. Baiquni, H. Hermansyah, A. Wijanarko, B. Prasetya, dan M. Nasikin. 2007. Pemanfaatansellulosa bagas untuk produksi etanolmelalui sakarifikasi dan fermentasiserentak dengan enzim xylanase. Makara, Teknologi Vol. 11 No. 1, 17-24.

Shallom, D. and Y. Shoham. 2003. Microbial Hemicellulases. Current Opinion inMicrobiology, 6: 219-228.

Siswanto, Suharyanto, dan R. Fitria. 2007. Produksi dan karakterisasi lakaseOmphalina sp. Menara Perkebunan, 75(2), 106-115.

Susilawati, D.N., Rosmimik, Saraswati, R., Simanungkalit, R .D.M. & Gunarto, L. 2002.Koleksi, karakterisasi, dan preservasi mikroba penyubur tanah dan perombak bahan organik.Prosiding seminar hasil penelitian rintisan dan bioteknologi tanaman.Balai penelitian bioteknologi dan sumberdaya genetik pertanian.

Taherzadeh, M.J. and Karimi, K. 2007.Acid-based hydrolysis processes for ethanol from lignocellulosic materials: a review., Bioresources 2(3), pp. 472-499.

Taruna, H., Rita A., Tania S., Sri A. 2010. Studi Awal Pemanfaatan Limbah Kertas HVS sebagai Bahan Baku Dalam Proses Pembuatan Etanol. Universitas Indonesia

Tomas, M., Josef P., Petra O., Igor B. 2010.The Using Of Enzymes For Degradation Of Cellulose Substrate For The Production Of Biogas. Department of Environmental Engineering, Institute of Chemical and Environmental Engineering,Faculty of Chemical and Food Technology, Slovak University of Technology, Radlinskeho, Bratislava, Slovak Republic.

White, J.G. 2000.Oregon perspective on cellulose-to-ethanol.Oregon Office of Energy. Oregon

Widyastuti, H., Siswanto, dan Suharyanto. 2007. Optimasi pertumbuhan dan aktivitas enzimlignolitik Omphalina sp dan Pleurotusostreatus pada fermentasi padat. Menara Perkebunan, 75(2), 93-105.

Wuyep, P.A, A.U. Khan, and A.J. Nok. 2003. Production and Regulation of Lignindegrading enzymes from Lentinussquarrosulus (mont.) Singer andPsathyrella atroumbonata Pegler. African J. of Biotechnology 2(11) 444-447.

Zaldivar, J., Nielsen, J., and Olsson. 2001. Fuel ethanol production from lignocellulose : a challenge for metabolic engineering and process integration. Appl. Microbiol.Biotechnol. 56: 17-34.

 

  1. L.  Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
    1. Nama Lengkap                              : Sugiarti Norvia
    2. NIM                                              : 24030110130052
    3. Fakultas/ Program Studi               : MIPA/ Kimia
    4. Perguruan Tinggi                           : Universitas Diponegoro
    5. Waktu untuk kegiatan PKM         : 15 jam/ minggu

M.Nama dan Biodata Dosen Pendamping

  1. Nama Lengkap dan Gelar             : Purbowatiningrum R.S, S.Si., M.Si
  2. Golongan Pangkat dan NIP          : 197303141999032002
  3. Jabatan Fungsional                        :
  4. Jabatan Struktural                         :
  5. Fakultas/Program Studi                : MIPA / Kimia
  6. Perguruan Tinggi                           : Universitas Diponegoro
  7. Bidang Keahlian                           : Biokimia
  8. Waktu untuk kegiatan PKM         : 15 jam/minggu